TESTIMONY

Tue - Feb 25, 2020 / 409 / SUPERSTORY

Kekurangan Tidak Menghalanginya untuk Terus Belajar

Bersekolah adalah hak untuk siapa saja, apalagi anak-anak. Tapi bagaimana kalau kondisinya anak merasakan diskriminasi dari teman-temannya karena ia berbeda? Inilah yang dirasakan oleh Faykli (9 tahun). Ia yang sedari lahir mengalami bibir sumbing seringkali mengalami perundungan di sekolah.

Bibir sumbing yang dialami Faykli membuatnya tidak bisa berbicara karena bukan hanya di bagian luar tapi sampai ke langit-langit mulutnya. Ia hanya bisa tersenyum, mengangguk, dan mengangkat kedua ibu jari saat diajak berbicara. Kondisi ini membuat Faykli tumbuh menjadi anak yang rendah diri, penakut, dan sulit berbaur dengan teman-teman seusianya.

Baca juga : KURANG MENDAPAT PERHATIAN BERUJUNG KETIDAKTAATAN

Ayahnya bekerja sebagai nelayan dan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga mengasuh serta menjaga Faykli. Setiap hari setelah pulang sekolah Faykli selalu bercerita kepada ibunya tentang apa yang dirasakan dan dilakukan teman-temannya padanya. Ibunya selalu sedih karena perlakuan teman-teman Faykli yang buruk. Kejadian ini membuat kedua orang tuanya melakukan langkah untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah satu-satunya di desa itu.

Walaupun dia sudah tidak bersekolah lagi, Faykli tetap rajin datang ke sekolah Minggu di Gereja Baptis Tiberias Atep Oki. Di sekolah Minggu, Faykli senang sekali karena bisa bermain bersama teman-teman sambil belajar firman Tuhan melalui kurikulum Superbook. Terlebih lagi pada saat gereja bekerja sama dengan CBN Indonesia untuk mengadakan School Of Life. Melalui program inilah, Faykli akhirnya bisa belajar baca dan tulis lagi seperti di sekolah.

Baca juga : BELAJAR DARI DANIEL YANG BERANI

Setiap sore, Faykli selalu mandi lebih cepat dan sangat bersemangat karena sudah terbayang bisa belajar di School Of Life. Ia sangat nyaman belajar disini karena tidak ada satupun teman yang mengejeknya. Para pengajar juga selalu mengingatkan kepada anak-anak lain agar bisa menghargai Faykli dan memperlakukan dia seperti anak pada umumnya.

Ibu Felni, ibunda Faykli pun sangat bersyukur dengan semangat anaknya. Faykli juga bertumbuh lewat pelajaran-pelajaran yang diberikan terutama dari sisi rohaninya. Menurut Ibu Felni, Faykli menjadi rajin berdoa di rumah. Sekalipun tidak bisa berbicara dengan jelas, Faykli sering menceritakan apa yang dia dapatkan di School Of Life maupun sekolah Minggunya sambil mengacungkan jempol sembari tersenyum.

Faykli kini lebih ceria, berani, dan percaya diri. Ia bahkan mau mengajukan diri saat ditanya siapa yang mau membantu untuk membereskan kelas seusai sekolah Minggu. Membahagiakannya lagi, Faykli sudah 2 kali membawa teman baru untuk ikut kegiatan sekolah Minggu dan School Of Life. Ternyata ketika kita mampu menerima dan mengajarkan anak berkebutuhan khusus, maka dampaknya akan sangat luar biasa. Semoga Faykli terus jadi berkat untuk sekitarnya.

Riris Pakpahan

Fasilitator Superbook - Minahasa
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK