Aku lahir di Bandung dan sekarang usiaku 9 tahun. Aku anak pertama dari Papa Gilang dan Mama Clara. Aku punya adik kecil namanya Arthur Christian, usianya 2 tahun. Dia lucu banget dan sering bikin aku ketawa.
Aku sekolah di SD swasta di Bandung. Di kelasku ada teman-teman yang berbeda agama. Ada yang Islam, Katolik, dan Hindu. Awalnya aku pikir semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata tidak semudah itu. Beberapa teman sering mengejek aku. Mereka bilang, “Itu si Kristen.” Kadang mereka bilangnya sambil ketawa. Ada juga yang pernah mendorong aku. Rasanya sedih..
Aku jadi kesal dan marah. Dalam pikiranku, kalau ada yang ganggu aku, ya harus dibalas. Istilah kerennya, “senggol bacok.” Kalau mereka jahat, aku juga harus jahat. Itu yang kupikirkan waktu itu.
Setiap pulang sekolah, aku selalu cerita ke Mama. Lama-lama aku merasa tidak nyaman di sekolah. Rasanya takut, kesal, dan sedih campur jadi satu. Kadang aku bertanya dalam hati, “Kenapa mereka tidak suka sama aku?”
Bulan lalu, di sekolah minggu GIA Galunggung, aku belajar dari modul Superbook tentang Perumpamaan Anak yang Hilang. Di cerita itu, ada anak bungsu yang bandel. Dia ambil warisan ayahnya, pergi jauh, dan hidup sembarangan. Tapi waktu dia sadar dan pulang, ayahnya tidak marah. Ayahnya malah lari menyambut dan memeluk dia.
Aku terdiam waktu dengar cerita itu.
Aku sadar… aku juga sering seperti anak bungsu itu. Aku sering marah, kesal, dan ingin membalas orang yang menyakitiku. Tapi Tuhan tetap mengampuni aku. Tuhan tetap sayang sama aku.
Di akhir pelajaran, kami ditantang untuk memaafkan dan mendoakan teman atau saudara yang nakal atau menyakiti kami.
Waktu itu hatiku terasa berat. Sulit sekali rasanya mau mendoakan mereka yang sudah mengejek dan mendorong aku. Tapi aku ingat, kalau Tuhan sudah mengampuni aku, kenapa aku sulit mengampuni orang lain?
Akhirnya aku berdoa. Aku sebut nama teman-temanku satu per satu. Aku minta Tuhan menjamah hati mereka.
Sejak hari itu, aku mulai mencoba berubah.
Kalau dulu aku diam dan pasang muka marah, sekarang aku coba menyapa duluan.
Kalau dulu aku ingin membalas, sekarang aku coba menahan diri.
Kalau mereka kesulitan membawa barang, aku coba bantu.
Awalnya rasanya aneh. Tapi aku terus berdoa supaya Tuhan tolong aku.
Puji Tuhan, pelan-pelan mereka mulai berubah. Memang belum semua berubah, tapi sudah ada yang mulai ramah. Ada yang tidak mengejek lagi. Ada yang mulai ngobrol biasa. Aku belajar satu hal penting: sikap memaafkan dan mengasihi itu bisa mengubah suasana. Bukan karena aku hebat, tapi karena Tuhan yang melembutkan hati mereka.
Sekarang Aku Tahu, Membalas Itu Mudah. Tapi Mengampuni Itu Butuh Tuhan.
Kalau ada teman yang jahat atau mengejek kita, memang rasanya sakit. Tapi Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita. Jadi kita juga bisa belajar mengampuni orang lain. Aku masih belajar sampai sekarang. Tapi aku percaya, kalau kita mengasihi, Tuhan akan bekerja. Terima kasih Tuhan Yesus sudah mengubah hatiku. Tuhan memberkati

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK