Sebagai anak yang tumbuh di tengah banyak perbedaan, Ocha sempat merasa kecil dan tidak percaya diri. Jumlah teman seiman yang sedikit membuatnya mudah merasa malu dan tersisih. Namun melalui kelas pengembangan karakter dan kelas pemuridan anak yang membahas kisah Gideon, Ocha mulai memahami bahwa meskipun jumlahnya sedikit, Tuhan tetap menyertai orang yang berdiri di jalan yang benar. Dari situlah perlahan cara pandangnya berubah.
Tapi semua orang memanggil aku Ocha. Sekarang aku kelas 4 SD dan sekolah di sekolah negeri. Di sekolahku ada banyak sekali teman yang berbeda-beda. Ada yang beda warna kulit, beda suku, dan juga beda agama.
Teman yang seagama Kristen denganku di sekolah cuma empat orang. Kadang aku merasa tidak nyaman karena jumlah kami sangat sedikit. Setiap kali pelajaran agama, kami harus keluar kelas dan belajar terpisah. Jujur, dulu aku sering merasa malu saat harus keluar kelas sendiri. Ada beberapa teman yang mengejek, dan itu membuatku sedih.
Lalu aku mengikuti kelas pengembangan karakter dengan tema “Kaya dan Memperkaya.” Di sana, para mentor mengajarkan kami untuk saling menghargai perbedaan yang ada di sekitar kami. Kami belajar tentang toleransi, terutama dalam hal perbedaan agama. Kami diajar untuk saling menghormati, bukan saling merendahkan.
Selain itu, di kelas pemuridan anak, aku dan teman-teman belajar tentang tokoh Alkitab, yaitu Gideon. Aku belajar bahwa Gideon memimpin pasukan yang jumlahnya sedikit, tetapi Tuhan tetap memberi mereka kemenangan karena mereka ada di jalan yang benar.
Selama hampir tiga minggu berturut-turut, kami belajar tentang menghormati perbedaan dan berani berdiri untuk kebenaran. Kami juga diajak untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sekarang, aku melihat sekolahku dengan cara yang berbeda. Aku sadar memang banyak perbedaan di sekitarku, tapi aku diingatkan untuk tetap menghormati teman-temanku yang berbeda agama denganku. Aku juga merasa dikuatkan lewat cerita Gideon. Walaupun jumlah kami sedikit, bukan berarti kami harus merasa malu.
Aku merasa seperti Gideon. Temanku yang Kristen memang sedikit, tapi aku tidak boleh malu. Aku harus tetap berani dan bangga menjadi murid Yesus.
Sekarang, aku selalu menantikan pelajaran agama Kristen di sekolah. Kalau dulu aku malu saat harus keluar kelas, sekarang aku keluar kelas dengan sukacita. Aku tidak takut lagi. Aku mau belajar menghormati perbedaan dan tetap berani melakukan yang benar.

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK