ARTICLE

Tue - Oct 24, 2017 / 2744 / Parenting

4 Tips Mendisiplinkan Anak Tanpa Harus Membentaknya

Dulu, memukul anak di pantat ketika mereka nakal adalah salah satu cara untuk mendidik anak. Namun saat ini kekerasan seperti itu sudah tidak banyak berlaku di masyarakat, karena selain menimbulkan luka fisik pada anak, mereka juga terluka secara batin atau psikologis. Orang tua zaman sekarang lebih memilih menggunakan konsep “times-out” (tidak boleh melakukan aktivitas yang anak sukai) dan bentuk hukuman lainnya yang tidak bersifat fisik.

Lalu bagaimana dengan “membentak anak”? Di beberapa negara, memukul anak dianggap ilegal lho. Ada beberapa negara yang menjatuhkan hukuman pada orang tua yang melakukan kekerasan pada anaknya walaupun dengan maksud mendidik mereka. Nah apakah membentak juga tidak diperbolehkan oleh negara?

Coba kita lihat dari hukum yang berlaku di Indonesia ya SuperParents.  Kita bisa lihat di Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berisi :

“Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

    a. diskriminasi;

    b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

    c. penelantaran;

    d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

    e. ketidakadilan; dan perlakuan salah lainnya”

Masih soal perlindungan dari kekerasan psikis, kami juga berpedoman pada Pasal 58 ayat (1)Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”):

“Setiap anak berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari segala bentuk kekerasan fisik atau mental, penelantaran, perlakuan buruk, dan pelecehan seksual selama dalam pengasuhan orang tua atau walinya, atau pihak lain manapun yang bertanggungjawab atas pengasuhan.”

Definisi kekerasan psikis dapat kami temukan dalam sebuah tulisan Problema dan Solusi Strategis Kekerasan Terhadap Anak yang kami akses dari laman resmi Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial RI Kementerian Sosial (“Kemensos RI”):

“Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.”

Adapun arti kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Oleh karena itu, penderitaan psikis merupakan dampak dari perbuatan kekerasan, maka seseorang yang mengintimidasi anak hingga menderita secara psikis dapat dijerat Pasal 80 UU 35/2014.

Wah ternyata hukum di Indonesia melarang hal itu lho SuperParents. Nah bagaimana sekarang kata Alkitab terkait dengan hal ini?

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4). 

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua agar anak bisa memiliki kepribadian baik tanpa harus membentaknya?

NILAI-NILAI BAIK DALAM BINGKAI ALUR DONGENG YANG INDAH AKAN MEMBUAT ANAK MEMPEROLEH BANYAK MANFAAT

Siapa yang tidak suka dengan dongeng? Hampir semua anak kecil menyukai dongeng. Hal inilah yang bisa SuperParents manfaatkan untuk mendidik anak. Dalam dongeng ada banyak sekali nilai-nilai baik yang bisa anda sampaikan kepada anak, mulai dari sikap saling membantu, berbakti kepada kedua orangtua, saling menyayangi, dan ajaran baik lainnya.

Selain dapat mengajarkan sesuatu yang baik, dongeng juga bisa meningkatkan kualitas komunikasi antara anda dengan buah hati, bisa jadi anak sulit menurut pada orangtuanya karena kurangnya komunikasi yang terjalin.

 

FOKUS BERBICARA DENGAN ANAK. PEGANG KEDUA TANGANNYA DAN TATAP MATANYA, BARU NASEHATI DIA

Saat anak dianggap melakukan sebuah kenakalan maka sikapilah kenakalannya itu dengan tenang. Hentikan semua aktivitas yang sedang anda lakukan seperti bermain gadget, memasak, membersihkan rumah, dan sebagainya. Usahakan SuperParents sedang tidak melakukan aktivitas apa pun kecuali fokus untuk menasehati anak. Pegang kedua tangannya dan tatap matanya lalu nasehati dia. Hal ini penting untuk dilakukan agar anak merasa mendapat perhatian dari SuperParents.

 

RENDAHKAN SUARA ATAU BISIKKAN KATA-KATA NASIHAT AGAR SI KECIL TAK MERASA TAKUT ATAU MALU

Cara lainnya yang bisa dilakukan adalah dengan cara membisikkan kata-kata nasehat. Meskipun kata-kata yang digunakannya adalah sama tapi kadang anak merasa takut saat dibentak orang tuanya. Untuk menghindarinya, SuperParents bisa menasihati anak dengan cara berbisik.

Cara ini juga dapat menghindarkan anak dari rasa malu karena mungkin saja saat anda membentaknya dia merasa malu dengan teman-temannya. Tapi dengan cara seperti ini dia tidak khawatir teman-temannya mengetahui bahwa dia sedang dimarahi oleh anda.

 

AGAR ANAK MENGERTI, NASEHATI DENGAN BAHASA YANG MUDAH DIPAHAMINYA

Mungkin saja anak tidak menurut terhadap nasehat-nasehat SuperParents karena dia sebenarnya tidak mengerti maksud ucapan SuperParents. Bisa jadi bahasa yang SuperParents gunakan belum dapat dimengerti oleh anak sehingga dia tidak tahu apa maksud dari nasehat SuperParents. Untuk itulah, gunakan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Dengan cara ini mereka akan lebih mudah untuk memahami maksud dari nasihat anda.

Untuk mengeetahui bahasa-bahasa seperti apa yang seharusnya SuperParents gunakan saat berbicara dengan anak, SuperParents bisa membaca berbagai buku cerita anak ataupun dongeng-dongeng anak. Dengan demikian SuperParents akan mengerti bagaimana seharusnya berbicara pada anak. (CC)

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Baca juga : 

JANGAN TINGGALKAN ANAK DI DALAM MOBIL ATAU HAL INI DAPAT MENIMPA MEREKA

LAKUKAN 7 CARA YANG BIASA ORANG PERANCIS TERAPKAN AGAR ANAK TIDAK TANTRUM TAPI MANDIRI

INGIN MEMILIKI ANAK YANG SUKSES? SEBAIKNYA SUPERPARENT LAKUKAN INI

KLIK SHARE TO FACEBOOK UNTUK KAMU BAGIKAN ARTIKEL INI.

Contasia Christie

Penulis Konten
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK