ARTICLE

Wed - Aug 08, 2018 / 4177 / Inspirational

3 Fakta Kenapa Gereja Gagal dalam Meraih Generasi Milenial

Ketika mendeskripsikan jutaan orang yang dikenal sebagai generasi ‘milenial’, pemikiran ini yang muncul. Tahun 2020, demografi terbesar yang ada di sejarah ini mendominasi negara kita. Lalu bagaimana kita sebagai umat Kristen dapat memahami pola pikir mereka, karena banyak diantara mereka yang tidak mengenal Tuhan ataupun jika sudah mengenal Tuhan, mereka meragukannya?

Berikut ada beberapa ‘kabar baik’ tentang memberitakan ‘kabar baik’, meraih dan mempertahankan generasi milenial dimulai dari hubungan, persahabatan, dan perbincangan. Keluarga dalam gereja bisa lho melakukan hal ini! Membangun persahabatan dengan orang-orang disekitarnya adalah hal yang tidak mustahil dilakukan oleh gereja, dimanapun mereka berada dan dengan sumber daya apapun.

Baca juga : MENJANGKAU GENERASI MUDA TIDAK SULIT, ASAL GEREJA TIDAK MEMPERTAHANKAN 7 HAL INI (PART 1)

Masa depan gereja ada di tangan generasi muda, oleh karena itu raihlah generasi ini untuk mengenal Kristus. Namun sebelum menentukan strategi, berikut 3 fakta kenapa gereja gagal dalam meraih generasi milenial:

Sumber : gnjumc

1. Lebih menghargai tradisi daripada manusia

Secara tidak sadar, masih banyak gereja yang lebih mementingkan tradisi dibandingkan kebutuhan jemaatnya. Banyak gereja yang berpikir bahwa masalah keuangan, gedung gereja, dan program-program penunjang sarana prasarana itu lebih penting ketimbang pertumbuhan kualitas jemaatnya. Sayangnya ini semakin diperparah dengan kurang adanya keikutsertaan generasi muda dalam berperan membangun pelayanan di gereja.

Ada 2 hal ekstrem ini juga menjadi fokus yang tidak sehat dari gereja, yaitu pertama, ‘bisnis’. Gereja memutuskan untuk membuat ministry baru atau ‘mengubah citra’-nya demi menarik generasi selanjutnya. Sayangnya, hal ini kadang kurang berhasil, malah jadi semacam perebutan jemaat. Orang yang hanya datang untuk bergereja namun tidak ikut berkomunitas sifatnya sementara, sehingga kurang bisa membangun.

Yang kedua, perubahan yang tidak sehat dalam doktrin. Untuk menarik lebih banyak jemaat, ada gereja yang akhirnya mengubah keyakinan pada pernikahan ataupun keputusan rohaniah lainnya. Intinya, kita yang mempunyai tugas untuk memberitakan kabar baik, seharusnya semua keputusan tersebut tetap berpegang penuh pada firman Tuhan.

 

2. Terlalu menuntut anak dalam hal duniawi ketimbang pelayanan

Hal ini sangat penting diperhatikan oleh para orang tua milenial dan orang-orang muda yang lahir di generasi ini. Meraih prestasi dan memiliki banyak kemampuan itu bagus, tapi kalau sudah menomorduakan hubungan dengan Tuhan, sebaiknya jangan ya. Karena kebanyakan yang saya jumpai saat ini, tidak sedikit orang tua milenial yang lebih mementingkan pendidikan dan kemampuan anak dibandingkan mereka bergabung dalam acara gereja ataupun pelayanan.

Bukan hanya itu saja, generasi milenial juga cenderung sibuk. Tuntutan ekonomi yang begitu tinggi membuat mereka punya kesibukan sampai malam bahkan weekend sekalipun. Biasanya hal ini menimpa gereja di perkotaan.

Sumber: Gavin Adams

Baca juga : MENJANGKAU GENERASI MUDA TIDAK SULIT, ASAL GEREJA TIDAK MEMPERTAHANKAN 7 HAL INI (PART 2)

3. Memilih kenyamanan daripada komunitas dan tujuan gereja

Generasi milenial ini punya kecenderungan egosentris yang tinggi. Mereka akan mencari tempat dimana mereka nyaman untuk bernaung, seperti gereja. Beberapa dari mereka berganti-ganti gereja demi menemukan yang ‘pas’. Padahal semua gereja harusnya bisa lho sebagai tempat mereka bernaung tinggal bagaimana kita memfasilitasi mereka.

Gereja kadang juga lupa. Setelah generasi milenial ini dari Senin sampai Jumat disibukkan dengan pekerjaan ataupun pendidikannya dan saat beribadah, gereja masih saja tidak menyegarkan mereka dengan Firman Tuhan. Mereka jadi tidak nyaman karena beranggapan tidak ada tempat yang mampu menjawab kebutuhan mereka terhadap masalah yang dialami. Tidak ada salahnya kan, ada saatnya gereja melalui kothbahnya menjawab permasalahan jemaat. (CC)

KLIK SHARE TO FACEBOOK UNTUK BAGIKAN ARTIKEL INI.

Superbook Admin

Official Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK