ARTICLE

Tue - Jan 19, 2021 / 341 / Inspirational

Pentingnya Pengenalan dan Bagaimana Menghadapi Bencana untuk Anak!

Bencana datang tanpa kita duga. Dibutuhkan sikap ilmiah agar risiko dari dampak bencana alam di kemudian hari bisa berkurang. Anak-anak perlu belajar untuk mengantisipasi bilamana bencana itu datang. Alasannya sederhana, karena anak-anak dan lansia adalah kelompok yang rentan menjadi korban saat bencana alam terjadi.

Seperti di Jepang, sedari anak-anak mereka telah dipersiapkan secara matang apa yang harus mereka lakukan jika bencana sedang terjadi. Oleh karena itu, pentingnya sadar bencana ditanamkan kepada anak sedari dini. Bencana bisa terjadi secara alami seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, maupun kelalaian manusia seperti kebakaran, banjir dan kerusakan alam lainnya.

Baca juga : 3 TOKOH ALKITAB YANG MENGAJARKAN TENTANG KONSEKUENSI SAAT MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SALAH

Diperlukan peran orang tua

Dalam keseharian, peran orang tua sangat penting agar anak lebih mengerti tentang bencana. Superparents bisa menjelaskan bagaimana terjadinya banjir, gempa, erupsi gunung berapi, tanah longsor, kebakaran, dan lainnya agar mudah dipahami oleh anak. Superparents bisa menggunakan dongeng, buku anak yang menceritakan tentang penanggulangan bencana, simulasi sederhana dan lainnya.

Menurut Dosen Psikologi UGM yang juga Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, Superparents bisa melakukan eksperimen sederhana tentang banjir.“Bisa pakai tanah di belakang rumah atau air di ember untuk menganalogikan bendungan dan kapasitas tanah,” jelas Novi. Melalui simulasi tersebut, anak akan memiliki gambaran ilmiah bagaimana banjir bisa terjadi.  Pemanfaatan aplikasi BMKG untuk mengetahui prakiraan cuaca juga penting.

Belajar lewat komunitas

Komunitas Pahlawan Bencana adalah salah satu komunitas yang mengampanyekan mitigasi bencana melalui medium cerita bergambar atau dongeng kepada anak-anak di daerah Bandung.

'Dikenalkan apa itu bencana, simulasi gempa, karena kita tahu hampir di seluruh Indonesia tidak ada daerah yang rawan gempa. Tapi berdasarkan pengalaman saya pribadi saat sekolah, belum pernah diberikan simulasi gempa,' kata Priyangga Dyatmika dilansir dari liputan6.com

Setelah anak mengetahui dalam berbagai macam bencana terjadi karena beberapa hal, maka tahapan selanjutnya adalah menceritakan soal respon terhadap bencana itu sendiri.

Baca juga : INILAH CARA ORANG TUA AGNES MO MENDIDIKNYA SEHINGGA IA SUKSES!

'Misalnya yang sederhana kalau banjir harus pakai sepatu boot untuk melindungi kaki, ada gunung meletus harus lari, ada abu vulkanik pakai masker atau ada gempa ayo berlindung kayak gitu - gitu,' jelasnya. Jika tahapan bencana dan respon bencananya sudah diketahui oleh anak - anak, maka pengenalan lingkungan di sekitar dilakukan. Pengenalan lingkungan guna mengetahui cara merespon dampak terjadinya bencana, terhadap benda-benda didekat mereka serta proses evakuasi.

Sekolah adalah kunci

Pemahaman tentang bencana ini bisa diajarkan kepada anak-anak sedari sekolah dasar, melalui mata pelajaran sains. Namun sayangnya, pada praktekknya menghadapi bencana itu sendiri belum menjadi budaya sekolah untuk dikenalkan kepada anak-anak didiknya. Di kampus pun, pelatihan evakuasi bencana masih jarang dilakukan. Padahal ini sangat penting untuk kita ketahui.

Menurut Novi, ada lima tahap proses pembelajaran yang harus dikembangkan sekolah, yaitu keterlibatan, eksplorasi, penjelasan atau explaining, elaborasi, dan evaluasi. Dalam tahap keterlibatan, anak-anak bisa diajak untuk mengamati, membaca artikel, atau menonton video mengenai banjir. Di tahap eksplorasi, anak diajak mengeksplorasi apa yang mereka temukan dengan menanyakan apa yang mereka baca, lihat, dengar, rasakan, pikirkan, dan ingin tanyakan.

“Selanjutnya explaining itu bisa dengan cara memilih satu pertanyaan dari mereka sendiri. Misal apa yang menyebabkan banjir, atau bagaimana langkah mencegah banjir,” kata Novi.

Di tahap elaborasi, anak diajak mencari tahu lebih dalam dengan cara mengulas literatur terkait fenomena banjir. Sementara di tahap evaluasi anak-anak bisa diajak untuk mengevaluasi pendapatnya masing-masing.

“Dengan itu maka anak-anak terbiasa dengan cara pikir scientific saat ia melihat sebuah fenomena,” lanjutnya.

Sumber : kumparan.com dan liputan6.com

Contasia Christie

Content Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK