Di bulan Valentine, banyak orang bicara tentang cinta.
Perhatian, hadiah, dan perasaan yang membuat hati senang sering dianggap sebagai bukti kasih. Jika ada yang memberi waktu, memberi hadiah, atau menunjukkan perhatian khusus, kita cepat menyimpulkan bahwa itulah kasih.
Namun, tidak semua perasaan adalah kasih.
Emosi bisa datang dengan cepat.
Ia muncul saat kita merasa diperhatikan, dipahami, atau dibutuhkan. Emosi membuat kita merasa dekat, aman, dan berharga. Tetapi emosi juga mudah berubah. Saat ekspektasi tidak terpenuhi, saat respon orang lain berbeda dari yang kita harapkan, perasaan itu bisa memudar atau bahkan berubah menjadi kecewa.
Kasih berbeda dengan emosi.
Kasih bukan sekadar apa yang kita rasakan, melainkan apa yang kita pilih untuk lakukan. Kasih tetap bekerja saat perasaan naik turun. Kasih tetap hadir saat situasi tidak ideal. Kasih tidak berhenti hanya karena kondisi berubah.
Sering kali kita kecewa dalam relasi bukan karena tidak ada kasih,
melainkan karena kita berharap orang lain mengasihi dengan cara yang sama seperti Tuhan mengasihi kita. Kita berharap selalu dimengerti, selalu diperhatikan, dan tidak pernah dilukai. Tanpa sadar, kita menuntut manusia untuk mengasihi tanpa batas, padahal manusia mengasihi dengan keterbatasan.
Tuhan tidak mengasihi kita berdasarkan emosi.
Kasih-Nya tidak bergantung pada kondisi kita hari ini. Ia tidak berubah ketika kita jatuh, lelah, atau gagal. Tuhan mengasihi dengan keputusan yang tetap, bahkan saat kita menjauh atau tidak setia.
Valentine bisa menjadi momen untuk berhenti sejenak dan memeriksa hati.
Apakah selama ini kita lebih mengejar perasaan yang menyenangkan, atau sedang belajar mengasihi dengan sabar dan bertanggung jawab? Apakah kita mengasihi hanya ketika mudah, atau juga ketika perlu memilih untuk tetap setia?
Kasih sejati tidak selalu terasa menyenangkan.
Namun, kasih yang benar selalu membawa pertumbuhan baik bagi diri kita, maupun bagi orang lain.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK