Banyak orangtua mengasihi anak dengan sungguh-sungguh. Waktu, tenaga, dan perhatian sudah diberikan, namun pertengkaran tetap sering terjadi. Anak mudah marah atau menutup diri, sementara orangtua merasa usahanya tidak dihargai. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan karena kurang kasih, melainkan karena kasih itu tidak disampaikan dengan cara yang dipahami anak.
Kasih dan konflik sering berjalan beriringan di rumah. Orangtua merasa sudah peduli dan mendidik, tetapi anak justru merasa ditekan atau tidak dimengerti. Mengenal kebiasaan dan karakter anak tidak otomatis membuat orangtua memahami apa yang membuat anak merasa dikasihi dan aman. Kasih bukan hanya soal apa yang diberikan, melainkan bagaimana anak menerimanya.
Anak belum mampu menjelaskan perasaannya dengan kata-kata yang jelas. Ketika kebutuhan kasihnya tidak terpenuhi, responsnya sering muncul dalam bentuk tantrum, penolakan, atau sikap mudah tersinggung. Reaksi ini kerap dianggap sebagai perilaku buruk, padahal sering kali merupakan ekspresi dari perasaan tidak dipahami.
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam merasakan kasih. Ada anak yang merasa dikasihi ketika orangtua meluangkan waktu dan hadir sepenuhnya. Ada yang sangat peka terhadap kata-kata dan membutuhkan peneguhan. Ada pula yang merasa aman lewat sentuhan fisik seperti pelukan, atau melalui bantuan nyata saat orangtua menolong secara langsung. Tidak ada satu cara yang paling benar, yang penting adalah kesediaan orangtua belajar membaca kebutuhan anak.
Konflik sering muncul ketika orangtua memberi kasih dengan caranya sendiri, sementara anak menunggu kasih dengan caranya. Keduanya sama-sama berharap, tetapi tidak saling menangkap maksud. Akibatnya, masalah kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran yang berulang.
Memahami bahasa kasih anak bukan berarti memanjakan. Justru, pemahaman ini menolong orangtua menegur dan membimbing dengan lebih efektif tanpa melukai relasi. Ketika anak merasa dikasihi dan aman, proses mendidik menjadi lebih terbuka.
Anak yang merasa dikasihi dengan cara yang ia pahami akan lebih mudah percaya, lebih terbuka, dan lebih stabil secara emosional. Mengasihi anak tidak hanya tentang seberapa besar usaha orangtua, tetapi seberapa dalam anak merasa dipahami. Ketika bahasa kasih selaras, rumah dapat menjadi tempat anak bertumbuh dengan aman dan penuh kepercayaan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK