Beberapa tahun terakhir, istilah seperti anxiety, burnout, trauma, dan healing semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Generasi Z tampak sangat akrab dengan bahasa kesehatan mental. Sedikit lelah disebut burnout. Sedih berkepanjangan disebut trauma. Hubungan tidak sehat disebut toxic.
Hal ini membuat banyak orang tua bertanya-tanya, mengapa generasi ini seperti terlalu fokus pada mental? Padahal, jika ditarik ke belakang, bukan berarti generasi sebelumnya tidak mengalami tekanan. Mereka hanya tidak memiliki ruang dan kosa kata untuk membicarakannya.
Informasi tentang psikologi mudah diakses. Edukasi tentang emosi dan kesehatan mental tersebar luas di media sosial. Mereka belajar mengenali perasaan sejak dini. Yang berubah bukan jumlah masalahnya, tetapi cara membahasnya.
Generasi sebelumnya sering hidup dalam mode bertahan. Krisis ekonomi, tekanan kerja, dan tuntutan keluarga membentuk pola pikir bahwa yang terpenting adalah kuat. Emosi sering dianggap sebagai kelemahan. Kalimat seperti “jangan lebay” atau “kamu harus tahan banting” menjadi bagian dari pola asuh.
Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan kemampuan bertahan yang tinggi, tetapi minim keterampilan mengelola emosi.
Ketika Gen Z berani mengatakan, “Aku capek secara mental,” itu terdengar asing bagi generasi yang terbiasa memendam. Dari luar terlihat rapuh. Padahal bisa jadi itu bentuk kesadaran diri yang tidak dimiliki sebelumnya.
Diam bukan selalu berarti kuat.
Dan berbicara bukan selalu berarti lemah.
Meski demikian, penting juga untuk bersikap seimbang. Tidak semua kesedihan adalah depresi. Tidak semua kelelahan adalah burnout. Ada kalanya emosi negatif adalah bagian normal dari proses bertumbuh.
Di sinilah peran orang tua menjadi krusial. Anak perlu divalidasi agar merasa aman. Namun mereka juga perlu dibimbing untuk belajar tangguh, menyelesaikan konflik, dan menghadapi ketidaknyamanan tanpa langsung memberi label besar pada setiap rasa tidak nyaman.
Parenting hari ini bukan tentang memilih antara “anak harus kuat” atau “anak harus sehat secara mental.” Keduanya bisa berjalan bersama.
Kita bisa membesarkan generasi yang berani bicara tentang emosinya, tetapi juga mampu berdiri ketika keadaan tidak sesuai harapan. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan anak bukan penghakiman atas perasaannya, melainkan pendampingan untuk memahami dan mengelolanya.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK