“Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.”
— Mazmur 118:8 (TB)
Kita semua, cepat atau lambat, pernah merasakan pengkhianatan. Rasanya menyakitkan, apalagi jika datang dari orang yang dekat dengan kita. Orang yang kita percaya. Orang yang kita anggap akan selalu ada. Luka karena pengkhianatan bukan hanya melukai hati, tetapi juga bisa mengguncang identitas kita. Kita mulai mempertanyakan diri sendiri, merasa direndahkan, bahkan takut untuk mempercayai siapa pun lagi.
Dalam Mazmur 55, ia menggambarkan betapa beratnya dikhianati bukan oleh musuh, tetapi oleh seorang sahabat dekat. Jika musuh yang melukai, mungkin kita bisa lebih siap. Tetapi ketika yang melukai adalah orang yang berjalan bersama kita, rasa sakitnya terasa jauh lebih dalam.
Dari pengalaman itu, kita belajar satu hal penting:
Manusia tidak pernah dimaksudkan menjadi fondasi hidup kita. Ketika kita menjadikan seseorang sebagai sandaran utama secara emosional, hampir pasti kita akan kecewa. Bukan karena mereka selalu jahat, tetapi karena mereka juga manusia. Terbatas. Tidak sempurna.
Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan kita, “Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.” Ini bukan berarti kita tidak boleh mempercayai orang lain. Namun, fondasi terdalam hidup kita seharusnya tetap Tuhan. Hanya Dia yang tidak berubah. Hanya Dia yang tidak pernah gagal menjaga kita.
Saat kita dikhianati, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengizinkan diri kita memproses emosi. Kita tidak perlu pura-pura kuat. Kita boleh sedih, kecewa, bahkan marah. Tetapi jangan kita kubur semuanya sendirian. Bawalah perasaan itu kepada Tuhan dalam doa. Ceritakan semuanya dengan jujur.
Langkah berikutnya adalah berhenti berharap manusia yang menyelamatkan atau memulihkan kita. Hanya Tuhan yang benar-benar bisa mengisi kekosongan dan memulihkan hati kita. Pengkhianatan terkadang Tuhan izinkan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengarahkan kembali kepercayaan kita kepada-Nya.
Dan yang paling sulit, kita belajar untuk mendoakan mereka yang melukai kita. Ini bukan berarti kita menyetujui perbuatannya. Tetapi ketika kita menyerahkan mereka kepada Tuhan, hati kita mulai dilepaskan dari beban. Kita tidak lagi berusaha mengendalikan hasil akhirnya. Kita belajar percaya bahwa Tuhanlah Hakim yang adil.
Tetapi itu tidak harus menghancurkan kita. Justru melalui pengalaman itu, kita bisa semakin memahami bahwa sandaran kita yang sejati hanyalah Tuhan. Ketika kepercayaan kita kembali tertanam di dalam Dia, kita akan menemukan ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh manusia mana pun.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK