Malam sebelum penyaliban adalah salah satu momen paling emosional dalam kehidupan Yesus Kristus. Di taman Getsemani, Dia tidak hanya berdoa, tetapi juga bergumul dengan perasaan yang sangat manusiawi—takut, berat, dan penuh tekanan. Yesus tahu persis apa yang akan terjadi: penderitaan, penolakan, bahkan kematian di kayu salib.
Dalam doa-Nya, Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak kebal terhadap rasa takut. Dia tidak berpura-pura kuat atau menyembunyikan apa yang Dia rasakan. Justru di situ kita melihat sisi yang sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai manusia—bahwa merasa takut bukan berarti kita tidak punya iman.
Banyak dari kita sering berpikir bahwa iman berarti harus selalu kuat, tenang, dan tidak goyah. Padahal, melalui momen ini, Yesus menunjukkan bahwa iman bukan tentang tidak merasakan takut. Iman adalah tentang tetap datang kepada Tuhan di tengah rasa takut itu. Sama seperti Yesus yang tetap berdoa, tetap membuka hati-Nya, dan tetap jujur di hadapan Bapa.
Namun, pergumulan Yesus tidak berhenti di situ. Dia melanjutkan doa-Nya dengan kalimat yang sangat dalam: “Namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Di sinilah kita melihat inti dari ketaatan. Bukan karena rasa takut itu hilang, tetapi karena ada keputusan untuk tetap percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
Di sisi lain, ada hal yang juga tidak kalah menyakitkan. Saat Yesus berada di titik paling berat dalam hidup-Nya, murid-murid yang Dia ajak untuk berjaga dan berdoa justru tertidur. Bukan sekali, tetapi berulang kali. Dalam kondisi seperti itu, Yesus harus menghadapi pergumulan-Nya hampir sendirian. Ini menjadi gambaran yang sangat nyata tentang bagaimana kesepian bisa datang bahkan ketika kita dikelilingi oleh orang-orang terdekat.
Pengalaman ini sering kali juga kita rasakan. Ada momen ketika kita sedang tidak baik-baik saja, tetapi tidak ada yang benar-benar mengerti atau hadir sepenuhnya untuk kita. Di titik itu, kita belajar bahwa tidak semua orang bisa memahami pergumulan kita. Namun, sama seperti Yesus, kita tetap bisa datang kepada Tuhan, bahkan ketika manusia tidak bisa sepenuhnya mengerti.
Yang membuat malam itu begitu berarti adalah keputusan Yesus untuk tetap melangkah. Dia memiliki pilihan untuk mundur, tetapi Dia memilih untuk tetap taat. Keputusan ini bukan keputusan yang ringan, melainkan keputusan yang lahir dari kasih yang sangat besar. Kasih yang tidak berubah, tidak mundur, dan tetap memilih, meskipun harus melewati penderitaan.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa iman bukan tentang kesempurnaan perasaan, tetapi tentang ketaatan di tengah pergumulan. Tidak apa-apa jika hari ini kita merasa takut, bingung, atau bahkan lelah. Yang terpenting adalah kita tetap mau datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku takut, tapi aku tetap mau percaya.”
Malam sebelum salib mengajarkan kita bahwa di balik setiap ketaatan, ada proses yang tidak mudah. Namun, justru di dalam proses itulah iman kita dibentuk. Dan sama seperti Yesus yang tidak ditinggalkan oleh Bapa, kita juga tidak pernah sendirian. Tuhan selalu ada, bahkan di malam paling sunyi sekalipun.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK