ARTICLE

Wed - Nov 07, 2018 / 142 / Inspirational

Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Bagi Orangtua dan Orang Lain

Siapa yang waktu kecilnya mengidolakan seseorang, bahkan ingin seperti idola tersebut? Dulu saya suka sekali dengan Superman. Sampai-sampai merengek ke orangtua untuk dibelikan kostumnya. Setelah dapat, saya hampir tidak bisa melepaskan karena “bangga” bisa seperti mereka.

Sayangnya, kostum hanyalah kostum. Bukanlah sebuah kepribadian ataupun karakter heroik yang biasanya anak miliki ketika mereka mengidolakan seseorang. Saya ingin sekali agar anak saya bisa menjadi superhero dalam kehidupan nyata mereka. Ya, menjadi ‘pahlawan’ bukan bystander seperti mayoritas orang di dunia.

Bystander biasanya terlalu takut atau apatis dalam mengambil sikap. Mayoritas dari mereka hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun ketika ada suatu hal genting terjadi di depannya. Berbeda dengan ‘pahlawan’. Menurut Philip Zimbardo dan Zeno Franco, peneliti heroism, pahlawan memiliki dua kualitas. Pertama, mereka menghayati nilai-nilai dan kualitas keyakinan mereka. Kedua, mereka berani mengambil resiko.

Saya sendiri memilih memiliki anak yang memiliki jiwa ‘kepahlawanan’ dibandingkan hanya menjadi bystander. Kalau kamu setuju dengan saya, inilah yang perlu dilakukan:

Sumber: Photo by Jessica Podraza on Unsplash

1. Membantu perkembangan imaginasi heroik anak.

Anak bisa ditunjukkan beberapa tokoh pahlawan yang bisa mereka teladani, lalu ajak mereka untuk mulai berpikir seperti tokoh idola mereka. Kita harus membantunya sadar, bagaimana sih pahlawan melihat dunia ini. Untuk permulaan, latih anak membedakan mana yang tidak benar.

Contohnya, anak yang cerdas secara emosional biasanya akan tahu siapa teman yang seringkali mengalami bullying di sekolahnya. Dia bisa memprediksi kapan anak tersebut di bully, sehingga ia bisa mencegah hal itu terjadi, dibandingkan hanya menonton saja tanpa melakukan apapun. Contoh pahlawan di Alkitab yang bisa diteladani anak bisa dilihat disini.

 Baca juga : LATIH EMPATI ANAK SEDARI DINI AGAR TIDAK TERPENGARUH BYSTANDER EFFECT

2. Ajarkan anak untuk bisa menyelesaikan perselisihan.

Perselisihan bukanlah hal yang tidak baik, selama kita bisa menyelesaikannya. Anak-anak perlu memiliki kepercayaan diri dalam kemampuan interpersonalnya, sehingga mereka mampu membela diri atas apa yang mereka percaya. Mengajarkan resolusi positif tentang konflik dan mengembangkan mindset mereka bisa sangat membantu lho.

 

3. Menjadi teladan kasih dan empati kepada orang lain (Matius 22:37-39)

Tanamkan sejak anak masih kecil rasa tanggung jawab dan peduli kepada orang lain. Sebagai orangtua, kita juga punya tugas penting, yaitu menunjukkan kasih Tuhan, toleransi, perhatian, dan empati kepada anak-anak kita sendiri maupun orang lain. Dengan begitu, anak akan senang hati mencontoh apa yang kita lakukan.

 Baca juga : CARA MELATIH ANAK AGAR MENJADI KUAT DALAM MENGHADAPI KERASNYA KEHIDUPAN

4. Ekspresikan ekspektasi kita agar anak melakukan tindakan heroik.

Penelitian membuktikan anak-anak yang melaporkan tindakan pem-bully-an yang terjadi disekitarnya percaya bahwa orangtua maupun teman-temannya berekspektasi agar ia mau menolong orang tersebut.

Saya ingin anak saya aman dan bahagia, tapi saya juga ingin agar mereka mampu jadi pahlawan bagi orang lain. Ini sangat diperlukan di dunia yang sudah ‘dingin’. Dimana kepedulian, kasih, dan tanggung jawab sudah bukan menjadi nilai yang penting. Apakah kamu juga ingin memiliki anak ataupun anak-anak sekolah Minggu yang mampu menjadi garam dan terang bagi sesamanya sesuai dengan nilai-nilai Kristiani yang Tuhan Yesus sudah tanamkan? Inilah tugas kita bersama!

Kamu bisa membantu Superbook untuk menanamkan nilai-nilai kasih Tuhan kepada anak-anak yang ada di seluruh Indonesia, dengan menjadi sponsor Superbook. Hanya dengan 300ribu, kamu sudah memastikan 1 sekolah Minggu dilayani dan mendengar Firman serta mengamalkan kasih Tuhan.

Klik disini.

Contasia Christie

Content Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK