Terkadang hal ini terlihat sepele, tapi bisa meninggalkan luka emosional. Contohnya terjadi pada Alvaro, seorang anak Sekolah Minggu berusia 9 tahun. Suatu hari, temannya, Adrel, mengejeknya dengan kata-kata kasar tentang fisiknya. Marah dan terluka, Alvaro sampai memukul temannya. Kejadian ini menunjukkan bagaimana ejekan bisa memicu konflik, bahkan pada anak yang biasanya baik hati.
BACA JUGA : Aku Nggak Suka Dibully, Rasa Marah Membuatku Memukul, Namun Tuhan Mengajarku Mengampuni
Orangtua perlu peka dan tahu bagaimana menyikapi anak yang suka mengejek, agar perilaku ini tidak berkembang menjadi bullying. Berikut adalah 7 fakta penting yang perlu diketahui:
Ejekan Sering Berasal dari Rasa Minder
Anak yang mengejek biasanya ingin menutupi kelemahan diri sendiri. Dengan merendahkan orang lain, mereka merasa lebih kuat atau “lebih baik”.
Ingin Diterima Lingkungan
Anak kadang mengejek agar dianggap keren atau diterima teman-temannya. Perhatian yang mereka dapat dari ejekan bisa membuat perilaku ini terus muncul.
Meniru Lingkungan
Kebiasaan mengejek bisa muncul karena anak meniru orang dewasa atau tontonan yang dilihatnya. Contoh di rumah atau sekolah akan membentuk perilaku anak.
Belum Bisa Mengelola Emosi
Anak-anak yang kesal atau marah belum punya cara sehat mengekspresikan perasaan. Ejekan menjadi pelampiasan yang mereka gunakan untuk melepaskan emosi.
Tidak Menyadari Dampak
Banyak anak belum paham bahwa ejekan bisa melukai hati teman. Mereka sering hanya berpikir lucu atau seru, tanpa menyadari perasaan orang lain.
Ejekan Bisa Jadi Awal Bullying
Jika dibiarkan, ejekan ringan bisa berkembang menjadi perilaku bullying yang lebih serius, baik secara verbal maupun fisik.
Butuh Pendampingan Orangtua
Anak yang suka mengejek bukan “anak nakal”, tapi sedang belajar mengekspresikan diri. Arahan, contoh, dan diskusi dengan orangtua sangat penting untuk membimbingnya.
- Ajari anak empati dengan contoh nyata.
- Bicara tentang perasaan dan dampak dari ejekan.
- Dorong anak meminta maaf saat salah.
- Berikan pujian saat anak mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat.
Dengan memahami penyebab anak mengejek dan membimbing mereka, orangtua membantu anak belajar menghargai orang lain, mengelola emosi, dan membangun persahabatan yang sehat.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK