TESTIMONY

Mon - Apr 02, 2018 / 1062 / SUPERSTORY

Nama Plesetan Itu Tidak Akan Mempengaruhi Kehidupan Persit Lagi

Bullying secara verbal memang sangat menyakitkan ya. Walaupun kedengarannya seperti bercanda, tapi bagaimana hati anak menyikapinya bisa sangat berbeda. Seperti yang dialami oleh Persit Yulianti dimana teman-temannya kerap kali memanggilnya dengan sebutan “pangsit”.

Persit yang berumur 10 tahun ini seringkali diejek oleh teman-temannya di sekitar rumah ataupun di sekolah. Namanya yang hampir seperti nama makanan menggelitik teman-temannya untuk membuat plesetan. Semakin sering Persit dipanggil pangsit, semakin dalam juga rasa sakit hatinya sehingga membuatnya tidak lagi mau berteman dengan mereka.

Persit marah dan kesal sekali dengan teman-temannya. Sampai-sampai kata tersebut terbawa terus dalam pikiran dan membuat hatinya tidak nyaman. Sebagai ibu, Ngatimah selalu mengingatkan Persit agar tidak membalas kelakuan teman-temannya. Persit justru harus mendoakan mereka agar tidak mengejek dan tidak boleh kesal ataupun marah dalam hati.

“Saya juga terus mendorong dan menyemangati Persit untuk tidak memperdulikan perkataan teman-temannya. Walaupun ada orang yang tidak suka dan mengejek kita, tetapi kita harus tetap tenang dan melakukan kebaikan kepada mereka seperti kasih yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita,” ungkap Ngatimah.

Sampai akhirnya tiba waktu bagi Persit untuk bersekolah minggu. Ia bergereja di Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) Kibang Budi Jaya, Tulang Bawang. Saat itu, Kak Hermina Tambunan, guru sekolah minggunya sedang mengajar materi dari Sekolah Minggu Superbook tentang kisah Nuh yang berjudul “Bahtera Penyelamat”.

Pada pelajaran tersebut, Persit bersaksi di depan kelas tentang apa yang ia alami selama ini. Tentang kekesalannya pada teman-temannya yang sering memanggilnya dengan panggilan pangsit. Setelah mendengar kesaksiannya, Kak Hermina mengajarkan bahwa Nuh saja saat diperintahkan membuat bahtera besar banyak dicibir oleh orang. Tapi Nuh tetap melakukan perintah Tuhan dan tidak mempedulikan kata-kata orang tersebut. 

Di pertemuan sekolah minggu berikutnya, Persit kembali bersaksi. Dia mengatakan mau seperti Nuh yang tetap melakukan perintah Tuhan dan tidak mempedulikan perkataan orang lain disekitarnya. Persit berjanji bahwa ia mau semakin kuat dan meneguhkan imannya kepada Tuhan.

Ia tidak mau lagi membalas perkataan teman-temannya itu, tapi ia berjanji mau berbuat baik kepada mereka dan mendoakannya. Persit mau berubah karena dia tahu bahwa Tuhan juga mengasihi Persit, jadi ia juga mau mengasihi teman-temannya.

Oleh Halomoan Hutabarat (Fasilitator Tulang Bawang, Lampung)

Superbook Admin

Official Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK