Kata orang-orang, aku ini anaknya pintar, mandiri, bawel, dan sering banget juara kelas. Aku juga suka ikut lomba menari di sekolah—itu bagian yang paling aku suka! Tapi… ada satu hal yang nggak terlalu banyak orang tahu tentang aku.
Dulu, aku sering banget melawan. Bukan cuma sekali dua kali. Tapi sering.
Mama biasanya nyuruh aku jaga adik. Tapi… adikku itu lasak sekali, pokoknya nggak bisa diam. Aku capek banget jagainnya, jadi aku sering ngomel dan bilang, “Aku nggak mau! Capek!” Kadang aku sampai ngambek dan masuk kamar.
Kalau Papa nyuruh aku belajar, aku juga suka melawan. Padahal aku anaknya pintar dan suka ikut lomba… tapi jujur aja, aku nggak selalu mau belajar terus. Kadang aku cuma pengin rebahan, atau main.
Ke kakak dan abang, aku juga sering melawan karena mereka suka nyuruh-nyuruh aku bantuin ini itu.
Bahkan di sekolah, waktu guru manggil aku buat ngobrol, aku sempat nggak mau jawab. Bukannya marah, cuma… lagi malas bicara. Tapi jadinya aku kelihatan melawan.
Aku tahu itu nggak baik, tapi kadang aku merasa nggak mau aja. Aku capek, aku malas, dan aku pengin melakukan hal yang aku suka.
BACA JUGA : Aku Pernah Lupa Mengerjakan PR dan Hampir Gak Mau Datang ke Sekolah, Tapi Tuhan Kuatkan Aku
Suatu hari, aku ikut Layar Tancap Superbook GBI Danau 1 Marina. Waktu itu diputar tayangan Pahlawan Pemberani, cerita tentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Aku awalnya nonton biasa-biasa aja. Tapi waktu sampai bagian mereka tidak mau menyembah patung, terus diancam dimasukkan ke perapian, dan mereka masih tetap taat sama Tuhan, aku langsung merinding.
Aku pikir, “Kok mereka bisa setaat itu? Kok mereka bisa seberani itu?”
Mereka nggak melawan, padahal kondisinya jauh lebih sulit dari apa yang aku hadapi. Mereka tetap berdiri teguh karena mereka percaya Tuhan ada bersama mereka. Waktu nonton itu, hatiku kayak ditusuk pelan.
Aku sadar, keberanian itu bukan soal lawan atau berani ngomong keras, tapi berani melakukan yang benar, meskipun aku lagi malas, capek, atau nggak pengin.
Taat sama Tuhan itu keputusan yang harus berani diambil. Kadang sulit, tapi Tuhan selalu menyertai. Kalau aku mau berubah, Tuhan pasti bantuin aku.
Aku mulai taat kalau Mama minta jaga adik, meskipun adikku masih lasak, belajar tanpa disuruh berkali-kali, karena aku tahu aku harus bertanggung jawab. Aku lebih sopan sama kakak dan abang, aku berusaha jawab guru dengan baik.
Aku rajin bantu di rumah, hal-hal kecil yang dulu aku hindari, aku lebih berani berdoa dan baca firman, karena aku mau dekat sama Tuhan. Perubahanku bikin Mama dan Papa bersyukur banget. Kata mereka, aku sekarang kelihatan lebih dewasa, tenang, dan bertanggung jawab. Aku juga merasa lebih damai. Lebih ringan. Lebih senang.

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK