ARTICLE

Thu - Nov 13, 2025 / 572 / Parenting

Saat Anak Diejek Karena Kondisi Keluarga: 4 Cara Orangtua Menolong Anak Tetap Kuat

Beberapa waktu lalu, kita mendengar kisah tentang Misyel Marampa—anak yang tinggal di rumah sederhana dan sering diejek teman-temannya karena kondisi keluarganya. Walaupun kisahnya berat, pengalaman seperti ini sebenarnya dialami banyak anak: merasa minder, malu, atau dihina karena hal-hal yang tidak bisa mereka pilih.

BACA JUGA : “Rumahmu Jelek dan Bau!” Itu Kata Mereka, Tapi Aku Pilih Mengampuni

Dan sebagai orangtua, momen seperti ini bukan hanya menyakitkan untuk anak, tetapi juga untuk kita yang melihat mereka terluka. Namun, justru di sinilah hadirmu sebagai orangtua menjadi kunci: bagaimana kamu memberi penguatan, cara merespons yang tepat, dan bagaimana kamu menolong mereka membangun identitas yang sehat dan kokoh.

Inilah empat langkah penting yang bisa dilakukan orangtua ketika anak menghadapi ejekan atau rasa minder.

1. Dengarkan Tanpa Menghakimi

Saat anak bercerita bahwa ia diejek, sering kali orangtua terpancing untuk langsung berkata, “Sudah, jangan dipikirkan,” atau “Kamu harus kuat.” Namun, anak butuh ruang untuk didengar terlebih dulu. Jadilah tempat yang aman bagi mereka. Dengarkan dengan tenang, validasi perasaannya, dan biarkan mereka mengekspresikan apa yang membuat mereka sakit hati. Anak yang merasa “diterima apa adanya” oleh orangtuanya akan jauh lebih cepat pulih dari tekanan sosial.

2. Beri Pemahaman Tentang Nilai Diri

Ejekan biasanya menyerang identitas: rumah, penampilan, kemampuan, atau latar keluarga. Tugas orangtua adalah menolong anak melihat bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang mereka miliki. Ajak mereka mengenal siapa diri mereka di hadapan Tuhan bahwa mereka dikasihi, berharga, dan diciptakan unik. Anak yang mengerti nilai dirinya tidak mudah roboh oleh kata-kata orang lain.

3. Ajari Respons yang Benar, Bukan Sekadar Membalas

Anak perlu belajar bahwa mereka tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, tapi mereka bisa mengontrol respons mereka. Ajarkan anak:

- cara berkata “Aku tidak suka kalau kamu bilang begitu” dengan tenang,

- kapan harus menjauh,

- kapan harus mencari bantuan guru.

Di sini orangtua bukan hanya memberi solusi, tapi melatih keterampilan sosial anak. Ini jauh lebih berdampak untuk jangka panjang.

4. Bangun Ketahanan Emosi Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Anak yang kuat secara emosional tidak dibentuk dalam satu hari—mereka dibentuk lewat rutinitas kecil. Luangkan waktu untuk berdoa bersama, membaca firman yang menguatkan, dan memberi afirmasi positif setiap hari. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti memuji usaha mereka, memberi pelukan, atau mengapresiasi hal kecil akan menjadi fondasi kokoh saat anak menghadapi tekanan dari luar.

Miranda Rachel

Penulis Konten
Share :

Tags :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK