“Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9, TB).
Banyak orang mengira pergumulan iman muncul karena kebenaran Firman Tuhan sulit dipahami. Namun dalam kenyataannya, kebenaran sering kali sudah jelas. Yang membuatnya berat adalah ketika kebenaran itu bertentangan dengan perasaan. Di sinilah konflik batin paling sering terjadi bukan karena kita tidak tahu apa yang benar, tetapi karena kebenaran tersebut mengganggu kendali yang ingin kita pertahankan atas hidup kita sendiri.
Alkitab dengan jujur menyatakan bahwa hati manusia itu licik. Hati mampu membungkus penolakan terhadap kebenaran dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal dan bahkan rohani. Kita berkata bahwa kita butuh waktu, belum siap, atau menunggu sampai perasaan menjadi lebih tenang. Padahal sering kali, yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang berusaha mempertahankan kendali, bukan mencari kehendak Tuhan.
Tuhan tidak pernah merancang perasaan untuk memimpin hidup manusia. Perasaan diciptakan sebagai respons, bukan sebagai otoritas penentu kebenaran. Itulah sebabnya Alkitab tidak pernah menyuruh kita mengikuti hati, melainkan memanggil kita untuk memperbarui akal budi. Ketika perasaan memimpin, kebenaran akan disaring melalui emosi. Namun ketika kebenaran memimpin, perasaan justru dibentuk dan dipulihkan oleh Firman Tuhan.
Tunduk kepada kebenaran bukan berarti menyangkal atau mematikan emosi. Tuhan tidak menuntut penyangkalan, melainkan kejujuran. Namun kejujuran itu tidak berhenti pada pengakuan perasaan; kejujuran sejati membawa kita pada ketaatan. Dalam iman Kristen, ketaatan tidak menunggu sampai hati merasa aman dan nyaman. Ketaatan justru sering kali dimulai ketika perasaan masih bergumul.
Yesus sendiri memberikan teladan yang sempurna tentang hal ini. Di taman Getsemani, Ia mengalami tekanan dan pergumulan yang sangat berat. Perasaan-Nya penuh duka dan beban, namun Ia tidak membiarkan perasaan tersebut menentukan keputusan-Nya. Ia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa dan tetap taat. Yesus tidak menyangkal apa yang Ia rasakan, tetapi Ia menundukkan perasaan-Nya di bawah kebenaran dan kehendak Allah.
Kebenaran tidak hadir untuk menyetujui perasaan manusia. Kebenaran hadir untuk membebaskan manusia. Selama perasaan memegang kendali, kita akan terus bernegosiasi dengan Firman Tuhan. Namun setiap kali kita memilih untuk tunduk kepada kebenaran, kita sedang melepaskan kendali diri dan menguatkan iman. Pergumulan dengan kebenaran bukan tanda kebingungan, melainkan tanda bahwa kebenaran sedang menantang pemerintahan diri sendiri.
Di situlah pertumbuhan rohani terjadi. Ketika kita berhenti meminta kebenaran menyesuaikan diri dengan perasaan kita, dan mulai membiarkan perasaan kita ditundukkan oleh kebenaran Firman Tuhan, hidup kita perlahan dibentuk ulang. Tidak selalu secara instan, tetapi dengan setia. Dan di dalam proses itulah, kebenaran menunjukkan fungsinya yang sejati: bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memerdekakan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK