ARTICLE

Wed - Jun 20, 2018 / 965 / Parenting

Jangan Membeda-bedakan Mainan Anak Sesuai Gendernya, Karena Alasan Ini

Anak laki-laki itu harusnya bermain mobil-mobilan, bola, atau robot-robotan. Kalau perempuan mainannya boneka, masak-masakan, dan dandan. Benarkan jenis permainan anak itu harus dikotak-kotakkan berdasarkan gender mereka? Apakah kebiasaan orang tua ini dapat berdampak pada pertumbuhan anak kedepannya?

Ternyata bukan hanya mainan lho, warna juga. Kalau laki-laki warnanya biru sedangkan perempuan pink. Tanpa disadari lewat pengotak-kotakan ini kita memberikan stereotip pada anak-anak yang nantinya berpengaruh pada karir anak saat dewasa.

Pemerintah Inggris mulai sadar akan hal ini, hingga mereka melakukan kampanye “Let Toys Be Toys”. Isi kampanye ini mendorong orang tua dan toko mainan untuk tidak lagi memisah-misahkan mainan anak berdasarkan gender, dan berhenti melekatkan label-label tertentu pada mainan.

Baca juga: JIKA HARUS MEMILIH, FOKUS PILIH ANAK ATAU PERNIKAHAN?

Menurut Kementerian Pendidikan Inggris, label-label tersebut mengurangi jumlah perempuan yang berkarier di sektor sains dan matematika. Sedangkan hasil penelitian Badan Pusat Statistik Nasional Inggris (ONS), lebih dari 80 persen profesional yang bekerja di sektor sains, penelitian, perteknikan, dan teknologi adalah laki-laki. 

Pesan yang tak sengaja diselipkan dalam fenomena itu adalah bahwa anak laki-laki harus menciptakan sesuatu dan jadi pemecah masalah, sementara perempuan harus memerankan bagian penyayang dan bersifat mengurusi.

Sumber: Tech Age Kids

Penulis buku Parenting Beyond Pink and Blue: How to Raise Your Kids Free of Gender Stereotypes yang juga Profesor di Universitas Kentucky, Cristia Spears Brown mengungkap alasan mengapa mainan sangat memengaruhi karakter anak. Brown menjelaskan, bahwa pola pikir anak-anak cenderung hitam dan putih. Hal ini yang membuat mereka akan sangat spesifik pada gendernya.

Pada umur 4 hingga lima, anak-anak mulai konstan terhadap apa yang diberikan atau diajarkan padanya, termasuk jenis mainan apa yang ia boleh mainkan. “Semua mainan sebenarnya netral pada gender apa pun. Yang membuatnya tak netral adalah cara mainan itu dipasarkan,” kata Brown.

Baca juga: SUPERPARENTS HARUS TAHU! JANGAN SAMPAI ANAK KABUR DARI RUMAH KARENA 5 ALASAN INI

Budaya seperti ini sayangnya dapat menghambat kreativitas anak. Anak hanya tahu pemahaman yang berkaitan dengan mainan tersebut sesuai jenis kelaminnya.  Seharusnya kita tidak membeda-bedakan mainan anak berdasarkan gendernya, tapi kesesuaian umur dan kemanannya.

Ketika ada orang yang mencibir anak laki-laki yang bermain masak-masakan, apakah mereka lupa bahwa koki ternama itu justru mayoritas laki-laki? Saat anak laki-laki bermain boneka lalu dicibir, apakah kita lupa bahwa nantinya mereka juga adalah calon ayah, paman, ataupun kakak yang mengayomi dan melindungi?

Jadi janganlah kita menjadi penentu dan pembatas anak dari dunia belajarnya hanya karena masalah gender. Biarkan mereka mengksplor mainan apapun. Dampaknya pun baik kok, anak menjadi lebih kreatif dan bisa memadukan berbagai macam pekerjaan yang mungkin belum kita sadari. Tanamkan kepada anak bahwa laki-laki maupun perempuan punya posisi, tugas, tanggung jawab, kewajiban, dan hak yang sama. Tidak perlu di beda-bedakan. (CC)

Sumber: tirto.id

KLIK SHARE TO FACEBOOK UNTUK KAMU BAGIKAN ARTIKEL INI.

 

Contasia Christie

Penulis Konten
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK