Ketika anak mulai mengambil barang yang bukan miliknya, banyak orangtua langsung panik. Wajar. Tapi sebelum bereaksi keras, penting untuk memahami bahwa ini bukan selalu tentang karakter buruk—melainkan proses belajar yang belum selesai.
Berikut 7 hal yang bisa orangtua lakukan:
Dalam psikologi, ada kondisi bernama Kleptomania, yaitu dorongan mencuri yang sulit dikendalikan.
Namun pada anak-anak, ini jarang terjadi.
Sebagian besar kasus hanyalah:
rasa ingin memiliki
belum paham konsep kepemilikan
atau ikut-ikutan
Jadi, jangan langsung memberi label, pahami dulu akar masalahnya.
Reaksi pertama sering menentukan segalanya.
Daripada langsung memarahi, coba tanya dengan tenang:
“Kenapa kamu ambil itu?”
Nada yang aman membuat anak lebih jujur, bukan semakin tertutup.
Anak perlu belajar merasakan, bukan hanya menghafal aturan.
Ajak dia berpikir:
“Kalau barang kamu diambil tanpa izin, kamu gimana?”
Empati membantu anak memahami dampak, bukan sekadar takut hukuman.
BACA JUGA : Kebiasaan Kecil Ini Bisa Mengubah Cara Kamu Mendengar Tuhan
Hindari mempermalukan anak.
Sebaliknya, ajarkan tanggung jawab:
Mengembalikan barang
Meminta maaf
Ini membentuk karakter, bukan luka.
Kadang, anak mencuri bukan karena butuh barang tapi karena butuh perhatian.
Perhatikan:
Apakah dia merasa kurang diperhatikan?
Apakah ada emosi yang tidak tersampaikan?
Perilaku seringkali adalah “bahasa” dari hati.
Kalau hari ini dibiarkan, besok dimarahi—anak akan bingung.
Pastikan:
aturan jelas
respon konsisten
nilai yang diajarkan tidak berubah-ubah
Anak belajar dari pola, bukan kata-kata.
Jika perilaku:
terjadi berulang
semakin ekstrem
sulit dikendalikan
Pertimbangkan untuk konsultasi ke psikolog anak.
Ini bukan kegagalan, tapi bentuk tanggung jawab.
Menghadapi anak yang suka mengambil barang orang lain memang menguji kesabaran. Tapi di balik itu, ada kesempatan besar untuk membentuk hati anak. Karena parenting bukan hanya soal menghentikan kesalahan, tetapi membimbing anak memahami kebenaran.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK