Sadar atau tidak, sedikit saja ada waktu kosong, tangan langsung refleks meraih ponsel melihat notifikasi, membuka media sosial, atau sekadar scroll tanpa tujuan.
Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini perlahan membentuk cara kita hidup. Bukan hanya rutinitas sehari-hari, tapi juga cara kita merasakan banyak hal termasuk hubungan dengan Tuhan.
Otak manusia memang dirancang untuk merespons hal-hal yang menyenangkan. Ada yang disebut dopamin, yang membuat kita ingin mengulang sesuatu yang terasa “enak”.
Masalahnya, sekarang hampir semua hal dibuat untuk memberikan rasa itu dengan cepat. Konten pendek, notifikasi, dan scroll tanpa akhir membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang instan dan terus bergerak.
Akibatnya, hal-hal yang tenang dan membutuhkan waktu sering terasa kurang menarik.
Ketika membuka Alkitab, misalnya, tidak ada sensasi cepat seperti saat scroll. Saat berdoa, tidak ada “respon instan” seperti notifikasi. Bukan karena Firman Tuhan kehilangan kuasanya, tetapi karena kita sudah terbiasa dengan ritme yang berbeda.
Pelan-pelan, standar kita berubah. Yang dulu terasa cukup, sekarang terasa biasa saja.
Di titik ini, banyak orang mulai merasa ada yang berubah dalam imannya.
Membaca Alkitab terasa sulit fokus. Doa terasa kosong. Ibadah terasa kurang menyentuh seperti dulu.
Padahal, belum tentu imannya yang melemah.
Bisa jadi, kita hanya semakin sulit untuk diam.
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.”
— Mazmur 46:11 (TB)
Keheningan sebenarnya adalah ruang di mana kita bisa mengenal Tuhan lebih dalam. Tapi kalau hidup terus dipenuhi suara dan distraksi, keheningan justru terasa asing—bahkan tidak nyaman.
Kita juga jadi mudah mengaitkan kehadiran Tuhan dengan perasaan. Saat tidak ada emosi yang kuat, kita merasa Tuhan jauh. Padahal, Tuhan tetap sama. Yang berubah adalah kepekaan kita.
Kabar baiknya, ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Tapi memang perlu kesadaran dan langkah kecil yang konsisten.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...”
— Roma 12:2 (TB)
Memperbarui pikiran berarti berani memilih ritme yang berbeda dari dunia—tidak selalu cepat, tidak selalu penuh distraksi.
Bisa dimulai dari hal sederhana.
- Coba perhatikan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk layar setiap hari? Lalu bandingkan dengan waktu untuk Tuhan.
- Kemudian, ubah cara pandang. Daripada langsung menyimpulkan “Alkitab terasa membosankan”, mungkin yang perlu disadari adalah bahwa diri kita sudah terlalu terbiasa dengan stimulasi instan.
- Dan yang paling sederhana, mulai dari pagi hari. Sebelum membuka ponsel, beri waktu sejenak untuk Tuhan. Tidak perlu lama—beberapa menit saja sudah cukup untuk melatih kembali fokus hati.
Terkadang, yang dibutuhkan dalam perjalanan iman bukan sesuatu yang lebih besar atau lebih ramai.
Tapi justru ruang yang lebih tenang.
Bukan karena Tuhan berhenti berbicara,
melainkan karena kita mulai belajar kembali untuk mendengarkan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK