Mereka merasakan tegangnya suara, nada marah, energi dingin, dan wajah yang berubah. Bagi anak, semua itu bukan sekadar “ribut”, tapi ancaman terhadap rasa aman yang paling dasar: keluarga.
Rumah seharusnya menjadi tempat yang paling aman. Namun ketika suara orangtua meninggi, atau ada perilaku kasar, anak bisa merasa rumahnya tidak lagi memberikan perlindungan. Mereka mulai bertanya:
“Kenapa mama dan papa berantem?”
“Aku salah apa?”
“Apa mereka akan berpisah?”
Ketakutan seperti ini membuat anak merasa dunia di sekitar mereka tidak stabil.
Anak cenderung berpikir sederhana: kalau ada masalah, pasti karena aku.
Mereka tidak bisa memahami dinamika orang dewasa, sehingga banyak anak merasa: mereka penyebab pertengkaran, mereka harus memperbaiki suasana, mereka harus “menyelamatkan” orangtuanya
Ini beban yang terlalu berat untuk anak seusia berapa pun.
Pertengkaran orangtua dapat menimbulkan luka seperti: kecemasan, kesedihan berkepanjangan, rasa tidak aman, kemarahan yang terpendam, sulit percaya pada orang lain. Anak bisa bersikap pendiam, mudah menangis, atau sebaliknya, menunjukkan perilaku agresif di sekolah dan rumah.
Luka ini tidak selalu tampak, tapi efeknya bertahan lama.
BACA JUGA : Diejek ‘Nggak Punya Bapak’, Aku Belajar Melawan Goliatku Bersama Tuhan Yesus
Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari yang mereka dengar.
Jika anak sering melihat: teriakan, kekerasan fisik, saling merendahkan, kata-kata yang menyakitkan. Mereka bisa menganggap itu cara menyelesaikan masalah.
Kelak, pola yang sama bisa mereka bawa ke: pertemanan, hubungan pacaran, pernikahan mereka sendiri. Anak meniru tanpa sadar apa yang menjadi “contoh” di depan mereka.
Anak yang hidup dalam ketegangan rumah tangga sering mengalami: sulit fokus belajar, nilai turun, takut ke sekolah, mudah sakit (karena stres), sulit tidur, menurunnya rasa percaya diri. Secara emosional, mereka tampak kuat—tetapi di dalam mereka berjuang sendiri.
Pertengkaran orangtua sering membuat anak merasa harus berpihak. Ini menyakitkan bagi mereka, karena mereka mencintai kedua orangtua. Saat diminta memilih, anak merasa: bersalah, bingung, tertekan, kehilangan kedekatan dengan salah satu pihak. Ini bisa memengaruhi hubungan jangka panjang dengan orangtua.
Anak tidak butuh rumah tanpa konflik.
Mereka butuh rumah yang aman, orangtua yang saling menghormati, dan contoh bagaimana menghadapi masalah dengan matang dan penuh kasih. Pertengkaran adalah hal normal.
Namun, cara orangtua mengelolanya bisa menjadi:
Luka Jangka Panjang Bagi Anak, atau Pelajaran Dewasa yang Membangun Mereka. Kita pilih yang mana?
Mau belajar lebih banyak cara sederhana tapi berdampak untuk mendampingi anak? Yuk, temukan inspirasinya di The Parenting Project!
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK