ARTICLE

Thu - May 24, 2018 / 1039 /

Oh Ternyata Ini Alasannya Kenapa Orang Indonesia Mudah Sekali Percaya dengan Hoax

“Glenn, lu inget gak waktu nyopet di Kalibata Mall? Lu dikejar-kejar massa? Itu karena lu gak bisa baca! Inget lu? Kalo lu bisa baca penunjuk jalan kayak gitu tu (plang Polisi), lu gak bakalan kabur ke tempat yang salah. Lu kabur ke kantor polisi, t*%$l! Pulang!”

Itulah salah satu cuplikan dialog dari film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Film yang bergenre komedi ini tak ayal membuat kita tertawa sekaligus miris. Glen meskipun tokoh fiktif ternyata merupakan gambaran dari kondisi remaja yang buta huruf di Indonesia. Mungkin dalam pikiran kita, anak-anak seperti itu ya anak yang tidak mengenyam pendidikan, anak jalanan, dan akhirnya tumbuh jadi kriminal. Padahal tidak hanya itu lho.

Tepat pada bulan Maret tahun lalu, Central Connecticut State University mempublikasikan risetnya yang bertajuk World's Most Literate Nations (WMLRN). John W. Miller dan kawan-kawan untuk pertama kalinya, sesuai klaim mereka, menganalisis tren skala besar dalam perilaku terkait dunia literasi di masyarakat di 60-an negara. 

Baca juga:

3 TIPS MUDAH BANTU SUPERPARENTS CIPTAKAN SUPERKIDS!

Posisi pertama negara dengan tingkat minat baca tertinggi adalah Finlandia di mana negara-negara Skandinavia lainnya mendominasi posisi 10 besar. Norwegia di urutan kedua, Islandia ketiga, Denmark keempat, Swedia kelima, dan keenam baru diputus oleh keberadaan Swiss.

Mirisnya, Indonesia berada di posisi kedua terbawah alias di urutan 60, tepat satu tingkat di atas Botswana. Indonesia kalah dari negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Thailand di posisi 59, Malaysia di posisi 53, atau Singapura di posisi 36. 

“Perilaku masyarakat terhadap dunia literasi menjadi faktor yang sangat penting dalam keberhasilan individu dan bangsa dalam bidang ekonomi dan bidang lain yang memang bersyaratkan basis pengetahuan yang memadai. Kecintaan terhadap dunia literasi juga menentukan masa depan dunia kita,” jelas Miller.

Sumber: greatschools.org

Penyebabnya?

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyinalir bahwa kurangnya minat baca anak Indonesia disebabkan karena perkembangan teknologi digital yang cepat, salah satunya media sosial. Waktu yang seharusnya dilakukan untuk membaca buku, malah diganti menjadi waktu bermedia sosial untuk melihat apa yang sedang tren. Fenomena ini terbukti lewat konsumsi media sosial yang begitu tinggi di Indonesia.

Padahal jika anak mempunyai budaya literasi yang baik, mereka juga memiliki nalar, mampu mengembangkan imaginasi, dan memperluas perspektif. Tapi sayangnya anak Indonesia kini dicetak untuk unggul dalam bidang hafalan dan lemah dalam penalaran. Jadi saat mereka dewasa akan mudah terpapar hoax karena mereka tidak punya nalar yang baik.

Baca juga:

KALAU TUHAN ADA, MENGAPA DOA SAYA BELUM DIJAWAB? INILAH CARA MEMANGGIL NAMA-NYA

 

Apa yang harus dilakukan?

Sumber: XploraBox

Sani B. Herwaman selaku psikolog anak dan direktur Lembaga Psikologi Daya Insan, minat baca harus ditumbuhkan sejak anak-anak lahir dan orang tua mesti menjadi pengawal utama proses ini. Oleh karena itu, yuk orang tua kita mulai latih anak dari sekarang untuk punya budaya membaca dengan cara berikut ini:

1. Mulailah membacakan dongeng atau cerita sedari anak masih kecil.

Saat SuperParents membacakan cerita atau dongeng, anak yang kemampuan membacanya masih minim akan mengenal kosakata, nilai-nilai, dan pengetahuan yang baru. Anakpun akan semakin penasaran untuk membaca kisah-kisah lainnya yang lebih menarik.

2. Jadilah teladan.

Jika SuperParents ingin anaknya rajin membaca buku, tentunya SuperParents juga harus donk membaca buku. Hal ini mudah sebenarnya. Misalnya bisa dimulai dengan Anda membaca buku anak-anak dan menceritakan isinya kepada anak. Mereka akan ikut penasaran untuk membaca.

3. Memilih buku favorit anak.

Pilihlah buku yang sesuai dengan kebutuhan dan umur mereka. Biasanya anak menyukai beberapa jenis buku yang membuat mereka betah membacanya.

4. Pancing pertanyaan terkait buku yang sedang mereka baca.

Ketika anak selesai membaca buku, Anda bisa menanyakan isinya kepada mereka. Kalau bukunya menarik, mereka akan menceritakannya dengan antusias. Inilah yang dapat menjadi tonggak Anda untuk punya quality time dengan anak membahas kesukaannya.

Sekarang Anda sudah tahu penyebab dan apa yang harus dilakukan. Sekarang giliran SuperParents mempraktekkannya! (CC)

Sumber: dari berbagai sumber

Superbook Admin

Official Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK