ARTICLE

Wed - Jun 20, 2018 / 4801 / Parenting

Ortu VS Anak! Jadi yang Harus Membahagiakan itu, Anak atau Orang Tua?

Seringkali timbul perselisihan antara orang tua dengan anak karena adanya perbedaan pandangan terhadap suatu hal. Orang tua ingin dihormati oleh anaknya, begitupun anak juga ingin pendapatnya didengar oleh orang tuanya. Tak ayal akhirnya jadi pergumulan yang cukup alot dalam keluarga.

Suatu hari saya membaca sebuah posting dari Kei Savouri, Founder dari Kelascinta.com. Postingannya ini cukup membuat saya merenung dan akhirnya mencoba mengerti posisi orang tua saya, maupun bagaimana nantinya ketika saya menjadi orang tua.

Orang Tua

Sumber: Step To Health

Coba kita renungkan, banyak orang tua yang ingin anaknya bisa menghargai dan menghormati mereka, tapi apakah mereka sudah melakukannya pada anak? Padahal anak itu belajar dari teladan orang tua. Sebagai orang tua, jangan berharap anak melakukan apa yang kita inginkan kalau kita sendiri tidak pernah melakukannya.

Pernahkah SuperParents mendengar, “Ingin membahagiakan orang tua.” Lalu orang tua selama ini sudah melakukan apa saja? Kok sampai sekarang tidak bahagia? Padahal kebahagiaan seseorang itu adalah tanggung jawabnya sendiri, mengapa masih menuntut anak untuk bisa membahagiakan? Anak boleh saja, bahkan boleh banget membahagiakan orang tua sebagai balas budi tapi jangan jadikan itu “beban atau kewajiban”. Tapi karena anak begitu sayang dan cinta pada orang tua.

Logikanya, kalau belum bahagia kenapa orang tua ingin punya anak? Kenapa harus membawa bayi yang masih belum mengerti apa-apa ikut menderita? Nanti setelah dewasa, mereka akhirnya menuntut agar anak bisa membahagiakannya. Egois donk. Coba waktu orang tua akhirnya memiliki bayi, yang bahagia orang tua atau bayinya?

Tapi orang tua yang baik itu tidak pernah menuntut apa-apa dari anaknya. Mereka sudah mengerti bahwa membesarkan dan mendidik anak memang merupakan tugas dan tanggung jawab, bukan hutang yang harus dibayar. Justru jadilah orang tua yang memberikan teladan baik kepada anak seperti firman Tuhan di Titus 2: 7, “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”.

Yuk SuperParents jangan menjadi TOXIC PARENTS untuk anak Anda. Perkuat komunikasi dan hubungan antara suami istri. Buatlah hubungan antar anggota keluarga jadi hangat dan terbuka, sehingga tidak ada kemungkinan SuperParents menjadikan anak sebagai sarana pelampiasan atas masalah yang sedang melanda. Bertolong-tolonglah dalam kasih saat menghadapi tantangan di keluarga.

 

Anak

Sumber: Crosswalk.com

Tahukah kamu kalau orang tuamu bersikap seperti sekarang karena mereka juga diperlakukan seperti itu saat mereka menjadi anak dulu? Oleh karena itu, jangan pernah membenci orang tuamu. Mereka juga korban, dan mungkin mereka pernah mengalami hal yang lebih parah dari itu. Kasihani dan ampunilah perbuatan mereka terhadapmu.

Agar kamu bisa bahagia, kamu harus membuang segala sakit hati dan kepahitan akan masa lalu. Kamu akan memperoleh kelegaan jika kamu datang kepada-Nya dan sudah bisa mengampuni mereka (Matius 11: 28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan padamu.”) Tetaplah sopan, baik, menghormati, dan jangan melawan mereka dengan keras. Tegaslah dan kasihi mereka apa adanya.

Setelah kamu bisa melewati semua proses ini, berjanjilah pada diri sendiri kalau kamu tidak akan meneruskan dan mematahkan siklus TOXIC PARENTS ini kepada anakmu nanti. Berjanjilah kamu harus bahagia terlebih dulu sebelum mempunyai anak, agar tidak membebani anak dengan kebahagiaanmu. Persiapkanlah dengan matang mental, emosi, finansial, iman kepada Tuhan dan apapun yang bisa mendukung keluargamu.

Perubahan itu harus kita mulai dari diri sendiri sebelum kita menuntut orang lain yang berubah. Terus semangat yaa dan tetap bersandar pada Yesus Kristus, yang sudah menjadi teladan bagi kita dalam bersikap menjadi anak ataupun seorang Bapa. (CC)

KLIK SHARE TO FACEBOOK UNTUK BAGIKAN ARTIKEL INI.

Contasia Christie

Penulis Konten
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK