Luka yang berasal dari gereja sering terasa sangat dalam. Gereja adalah tempat yang seharusnya memberi rasa aman, tempat orang datang untuk mencari pengharapan dan kasih. Karena itu, ketika seseorang justru mengalami kekecewaan di sana, rasa sakitnya bisa terasa membingungkan.
Kita tidak mengharapkan gereja menjadi tempat yang sempurna. Namun kita berharap menemukan kepedulian, kasih, dan kejujuran. Ketika yang terjadi justru pengabaian, kesalahpahaman, atau sikap yang melukai, hati bisa merasa sangat kecewa.
Mengakui rasa sakit itu adalah langkah pertama menuju pemulihan. Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat. Ia mengundang kita untuk datang dengan hati yang jujur.
Salah satu bagian tersulit dari luka gereja adalah kebingungan. Kita bisa terluka oleh orang-orang yang berbicara tentang Tuhan atau melayani di dalam gereja.
Namun penting untuk diingat bahwa Allah tidak sama dengan manusia yang mungkin mewakili-Nya dengan cara yang salah. Luka oleh gereja bukan bukti bahwa Tuhan mengecewakan kita, tetapi menunjukkan bahwa manusia tidak sempurna.
Gereja bukan kumpulan orang sempurna, melainkan komunitas orang-orang yang sedang dipulihkan oleh Tuhan.
Ketika terluka, kepahitan sering terasa seperti perlindungan. Namun sebenarnya kepahitan justru membuat luka tetap terbuka. Pengampunan tidak berarti membenarkan apa yang terjadi. Pengampunan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan luka itu terus mengendalikan hidup kita.
Seseorang bisa mengampuni dan tetap membuat batasan yang sehat. Dalam beberapa situasi, pemulihan tidak selalu berarti kembali seperti dulu, tetapi memiliki kejelasan dan jarak yang diperlukan. Luka gereja kadang membuat seseorang ingin menjauh dari komunitas. Namun pemulihan sering terjadi secara perlahan melalui hubungan yang sehat dan aman.
Tuhan tidak memaksa hati yang terluka untuk segera pulih. Ia merawatnya dengan lembut, sedikit demi sedikit. Ketika kita membawa luka kita kepada-Nya, Tuhan mampu memulihkan kepercayaan, harapan, dan hati yang pernah terluka.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK