Ada situasi yang ternyata lebih sering terjadi daripada yang kita sadari. Dua orang yang sama-sama mengasihi Tuhan. Sama-sama berdoa. Sama-sama merasa sedang mengikuti kehendak Tuhan. Tapi mereka tidak sepakat.
Ini bisa terjadi dalam pernikahan, pertemanan, keluarga, bahkan dalam pelayanan. Dua-duanya tulus. Dua-duanya merasa benar. Dan justru karena sama-sama merasa sedang taat kepada Tuhan, tidak ada yang mau mundur. Karena mundur terasa seperti mundur dari Tuhan.
Di momen seperti ini, kita sering bingung: sebenarnya siapa yang harus didengar?
Kita sering berpikir kalau seseorang sudah berdoa dan merasa yakin, berarti itu pasti benar. Tapi sebenarnya tidak selalu begitu. Kita semua bisa tulus, tapi tetap bisa salah. Kita semua bisa merasa yakin, tapi tetap bisa keliru.
Masalahnya bukan di ketulusan, tapi di dasar yang kita pakai. Apakah kita benar-benar berdiri di atas firman Tuhan, atau hanya berdiri di atas perasaan kita sendiri?
Kadang kita tidak sadar, kita bukan lagi mencari kebenaran, tapi sedang berusaha membuktikan bahwa kita benar. Dan di situ biasanya hubungan mulai retak, bukan karena Tuhan menjauh, tapi karena kita lebih fokus pada pendapat kita sendiri.
Kalau dua orang percaya tidak sepakat, satu-satunya tempat yang aman untuk kembali adalah firman Tuhan. Bukan siapa yang lebih lama jadi orang Kristen. Bukan siapa yang terdengar lebih rohani. Dan bukan siapa yang paling yakin dengan pendapatnya.
Yang perlu kita tanyakan bukan “siapa yang benar”, tapi “apa yang benar menurut firman Tuhan?”
Dan ini memang tidak mudah, karena kadang kita harus belajar merendahkan diri. Kita harus siap kalau ternyata pendapat kita yang perlu diubah. Tapi justru di situlah iman kita diuji, bukan hanya lewat doa, tapi lewat kerendahan hati.
Banyak orang berpikir kalau kita tidak sepakat, berarti kita tidak bisa berjalan bersama. Tapi sebenarnya kesatuan bukan berarti selalu setuju dalam segala hal. Kesatuan berarti kita punya fondasi yang sama, dan fondasi itu adalah Yesus.
Hari ini, kalau kamu sedang berada di situasi di mana kamu tidak sepakat dengan orang yang sama-sama mengasihi Tuhan, jangan langsung merasa semuanya hancur. Mungkin yang Tuhan mau bukan kita menang, tapi kita belajar kembali kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau kembali ke firman Tuhan. Dan dari situlah kesatuan yang sebenarnya bisa mulai lagi.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK