“Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.”
— Amsal 16:28 (TB)
Sebagian besar gosip tidak lahir dari kebencian. Ia lahir dari pembenaran diri.
Jarang sekali orang bergosip karena ingin menghancurkan seseorang. Lebih sering, mereka bergosip karena ingin merasa benar. Gosip adalah penghakiman tanpa tanggung jawab. Ia memungkinkan kita berbicara tentang seseorang tanpa pernah berbicara kepada orang itu.
Gosip memberi jalan pintas untuk meluapkan frustrasi tanpa menanggung biaya pemulihan. Dan itulah sebabnya gosip terasa begitu meyakinkan. Ia terdengar seperti kepedulian. Ia berpakaian seperti “kepekaan rohani.” Ia menggunakan bahasa moral.
Namun jika kejujuran tidak bertujuan memulihkan, itu bukan kebenaran. Itu ego yang mengenakan pakaian moralitas.
Gosip terasa “benar” karena ia menciptakan jarak. Jarak dari kegagalan orang lain. Jarak dari pergumulan hati sendiri.
Ketika kita menunjuk kelemahan orang lain, kita menghindari berhadapan dengan kelemahan pribadi. Itulah imbalan tersembunyi dari gosip: kita bisa merasa lebih tinggi tanpa harus tunduk pada pemeriksaan yang sama.
Padahal Kitab Suci jelas: kebenaran dimaksudkan untuk menyembuhkan. Teguran dimaksudkan untuk memulihkan. Perkataan diberikan untuk membangun, bukan meruntuhkan martabat seseorang demi kenyamanan diri sendiri.
Yesus tidak pernah membuka aib orang untuk merasa superior. Ia menyingkapkan hati untuk mengundang pertobatan. Gosip melewati proses itu. Ia menghindari kerja keras kasih. Ia menolak kerendahan hati. Ia menyingkirkan tanggung jawab.
Itulah sebabnya Yesus memberi prinsip yang jelas: jika ada masalah, pergilah kepada orangnya. Bukan kepada kerumunan. Karena kasih membutuhkan keberanian. Gosip bersembunyi di balik percakapan.
1. Periksa tujuan percakapanmu.
Apakah ini untuk memulihkan, atau hanya untuk membuatmu lega?
2. Hadapi ketidaknyamananmu.
Apa yang sedang kamu hindari dengan berbicara tentang seseorang alih-alih berbicara kepada mereka?
3. Ingat bahwa kepedulian tanpa tanggung jawab tetaplah gosip.
4. Jika pemulihan adalah tujuan, berbicaralah langsung kepada orangnya.
5. Sadari bahwa kamu pun membutuhkan kasih karunia.
Kerendahan hati mengubah cara kita berbicara.
Tidak setiap kebenaran perlu diucapkan di setiap tempat.
Dan tidak setiap cerita perlu menjadi konsumsi umum.
Perkataan kita seharusnya mencerminkan Injil membangun, memulihkan, dan menjaga martabat. Karena kasih mengambil risiko untuk mendekat. Gosip memilih aman dengan menjauh.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK