ARTICLE

Mon - Mar 16, 2026 / 5 / Parenting

Inilah Cara Menghadapi Anak yang Mulai Menjauh dari Orangtua

Emotionally Responsive Parenting

Sebagai orangtua, kita sering menilai dari apa yang terlihat. Selama anak tidak bermasalah, kita anggap semuanya baik. Padahal, lewat pendekatan emotionally responsive parenting, kita diajak untuk melihat lebih dalam—bukan hanya perilaku, tapi juga emosi anak. Anak yang terlihat tenang belum tentu benar-benar baik-baik saja. Bisa jadi mereka hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan apa yang mereka rasakan.

Saat Anak Diam, Ini Bukan Sekadar Sikap

Dalam emotionally responsive parenting, diam bukan langsung dianggap sebagai sikap “baik”, tapi sinyal yang perlu dipahami. Anak bisa memilih diam karena lelah menjelaskan, merasa tidak dimengerti, atau pernah tidak didengar. Alih-alih langsung mengoreksi, pendekatan ini mengajak orangtua untuk lebih peka: apa yang sebenarnya anak rasakan di balik diamnya?

Attachment-Based Parenting: Koneksi Lebih Penting dari Kontrol

Pendekatan attachment-based parenting menekankan bahwa kebutuhan utama anak adalah rasa aman dan kedekatan. Saat anak mulai terasa jauh, sering kali bukan karena mereka berubah, tapi karena koneksi itu mulai melemah. Di titik ini, yang dibutuhkan bukan aturan baru atau kontrol lebih ketat, tapi kehadiran yang membuat anak merasa aman untuk kembali.

 


BACA JUGA : Pernah Gak, Hati Terasa Tiba-tiba Terasa Datar dan Berpikir Tuhan Menjauh?

 


Dari Mengoreksi Menjadi Memahami

Sering kali kita refleks ingin langsung memberi solusi, menasihati, atau memperbaiki. Padahal dalam parenting berbasis koneksi, yang anak butuhkan pertama kali adalah didengar. Mendengarkan tanpa menyela, tanpa menghakimi, adalah bagian penting dari emotionally responsive parenting. Dari sana, anak mulai merasa, “Aku aman untuk jadi diri sendiri.”

Membangun koneksi kecil setiap hari. Koneksi tidak selalu dibangun lewat percakapan besar. Justru hal-hal kecil yang konsisten—menyapa dengan hangat, hadir tanpa distraksi, atau sekadar menemani—adalah bentuk nyata dari attachment-based parenting. Dari momen sederhana itu, anak belajar bahwa mereka tidak sendirian.

SuperParents, mungkin anak tidak benar-benar menjauh. Bisa jadi, mereka hanya menunggu kita hadir dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar sebagai orangtua yang mengarahkan, tapi sebagai tempat yang aman untuk kembali. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh dididik, mereka butuh merasa terhubung.

Miranda Rachel

Penulis Konten
Share :

Tags :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK