ARTICLE

Wed - May 11, 2022 / 276 / Inspirational

Ingin Jadi Sahabat Terbaik, Hindari 6 Perilaku Teman Ayub Ini

Kamu pasti tahu rasanya jatuh tapi ditendang juga. Mungkin kamu mengenal seseorang yang pernah mengalami kondisi menyedihkan, lalu orang-orang mulai menilai jika ada perilakunya yang mungkin menjadi penyebab kondisi tersebut.
Tahukah kamu, di Alkitab hal ini jelas terjadi. Kita bisa menemukannya lewat perilaku teman-teman Ayub ketika dia kehilangan semua harta benda, keluarga dan juga kesehatannya. Mereka mulai menyalahkan Ayub dan menilai bahwa tindakannyalah yang menyebabkan penderitaan yang dia alami.


Sayangnya, perilaku menyudutkan tersebut dipatahkan oleh pernyataan di dalam Alkitab bahwa penderitaan yang dialami Ayub sesungguhnya diizinkan Tuhan sebagai bentuk ujian imannya (Ayub 1: 6-11).


Ketiga teman Ayub, Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama, yang mendatangi dia sebenarnya berusaha untuk membantu. Tetapi caranya mungkin kurang tepat.


“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” (Ayub 5: 17-18)


Tentu saja saat itu mereka tidak tahu skenario yang dirancang oleh si iblis untuk menguji iman Ayub, karena itulah mereka mengira jika kemalangan yang dialami Ayub besar kemungkinan adalah teguran dari Tuhan.


Sekalipun kamu melakukan kesalahan dan ditimpa kemalangan, tentunya kamu juga tidak ingin mendengar nasihat semacam ini bukan? Orang lain tidak tahu persis apa yang sedang kamu hadapi, karena itu sudah seharusnya kita tidak cepat menilai atau mengatakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya.


Jika kamu ingin dianggap sebagai sahabat terbaik, hindarilah melakukan 6 perilaku seperti yang dilakukan teman-teman Ayub ini.


1# Jangan cepat menilai, karena kemungkinan kamu tidak tahu kondisi yang sebenarnya terjadi


Kamu mungkin berpikir bahwa kamu punya informasi yang cukup atau bisa menyimpulkan sesuatu yang tampaknya sangat masuk akal. Tetapi orang terdekat yang sedang menghadapi masalah bahkan mungkin tidak mengerti kenapa kondisi tersebut menimpa dirinya.


Cepat menyimpulkan sesuatu bisa berujung tuduhan yang bukan saja tidak berdasar tetapi juga melukai hati.


“Kaulihat orang yang cepat dengan kata-katanya; harapan lebih banyak bagi orang bebal dari pada bagi orang itu.” (Amsal 29: 20)


“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7: 1-2)

2# Ingatlah bahwa kata-kata dan tindakan kamu bisa berakibat fatal


Situasi yang dialami salah seorang teman atau orang terdekat kamu mungkin terlihat sangat menyedihkan. Tetapi buru-buru menilai dan menyimpulkan tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan supaya kondisi itu tidak terjadi bisa membuatnya semakin tertekan dan tenggelam dalam depresi dan rasa putus asa.


Tahukah kamu bahwa di masa ini, banyak orang yang mudah sekali menuduh atau bersyukur dengan peristiwa yang menimpa orang lain. Tak sedikit diantaranya yang turut senang karena kemalangan yang dialami oleh orang lain.


Tetapi apakah ini bisa dibenarkan? Tentu saja tidak.


“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10: 19)


“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” (Amsal 12: 18)

3# Pikirkan bagaimana kamu ingin orang lain memperlakukanmu, lakukanlah hal yang sama


Bayangkan jika kamu berada diposisi Ayub. Apakah kamu biasa-biasa saja ketika teman-temanmu menuduh jika apa yang kamu alami mungkin adalah teguran dari Tuhan?


Tentu saja itu menyakitkan. Jika kamu tidak ingin mengalami hal serupa, maka jangan berperilaku serupa kepada orang lain, khususnya ketika mereka sedang berada dalam situasi yang kurang baik.


“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103: 13-14)


“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Lukas 6: 31)

4# Menahan diri untuk berespon sekalipun kamu adalah orang yang dianggap bijaksana


Mungkin kamu adalah orang yang dikenal bijaksana. Namun bukan berarti kamu bisa sebebas mungkin meresponi keadaan orang lain atau teman dekat kamu dengan kata-kata nasihat.


Sebaliknya, ada waktu untuk duduk diam dan hanya memberikan dukungan fisik, seperti sentuhan yang lembut atau melayani apapun yang dibutuhkan. Tahan diri dan simpan nasihatmu.


“Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi…” (Yakobus 1: 9)

 

5# Pertimbangkan apakah pendapatmu benar-benar penting


Sebagai teman, kamu mungkin sudah terbiasa meluapkan kata-kata tanpa henti. Tapi untuk kondisi ini, tahan dulu ya!


Saat temanmu sedang dalam masalah, ada baiknya untuk menimbang: Jika aku menyampaikan hal ini apakah dia akan merasa lebih baik? Atau mungkin aku akan menyimpannya lebih dulu, karena ini waktunya untuk tetap diam.


“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10: 19)

6# Meminta kebijaksanaan dan kerendahan hati untuk menyikapi kondisi orang lain

Mudah sekali bagi kita untuk bertindak dan membuat keadaan orang lain jadi lebih baik.


Tapi Tuhan mau kita menyikapi setiap kondisi dengan bijaksana dan rendah hati.


“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” (Amsal 19: 21)


Kita harus ingat bahwa hanya Tuhan yang mampu mengizinkan berbagai macam kemalangan atas manusia. Kita hanya bisa membuat keputusan terbaik dengan kemampuan terbatas kita. Jadi alangkah baiknya untuk memilih mengambil langkah rendah hati dan bijaksana seperti doa dan bantuan tertentu yang mendukung kondisinya.


Mari terus belajar menjadi sahabat terbaik bagi banyak orang.

 

BAGAIMANA CERITA YESUS SAHABAT TERBAIKMU? YUK TETAP IKUTI SUPER PASKAH.

SUPER PASKAH

Superbook Admin

Official Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK