ARTICLE

Thu - Jun 30, 2022 / 21779 / Inspirational

Fakta yang Menyebabkan Anak Muda Meninggalkan Gereja. Apakah Gereja Mau Berdiam Diri Saja?

Tahukah kamu kalau anak muda zaman sekarang sudah jarang ke gereja? Kalaupun ke gereja paling hanya hari Minggu saja. Menurut survey yang diadakan oleh Bilangan Research Center pada 4.095 anak remaja di Indonesia di tahun 2017, rata-rata anak muda yang mengikuti ibadah 4 kali dalam 3 bulan sebesar 63.8% sedangkan sisanya hanya 2 atau 3 kali ibadah.

Penelitian itu membuktikan bahwa generasi milenial ini mulai meninggalkan gereja. Yang menambah kekhawatiran kita adalah sebanyak 36.5% anak muda tidak rutin baca Alkitab, dan bahkan 4.6%nya tidak pernah membaca Alkitab.

Seharusnya data ini menjadi cambukan bagi gereja. Kemana saja mereka selama ini? Kok bisa-bisanya kehilangan generasi ini muda yang notabenenya nanti akan menjadi generasi penerus pekabaran Injil. Apakah kita mau berdiam diri saja? Tentu tidak bukan!

Ingatlah ayat Matius 28: 19-20.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu  senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Sumber: imaginetogether

Dibawah ini adalah 12 alasan kenapa anak muda mulai meninggalkan gereja:

  1. Tidak ada yang mendengarkan dan memperhatikan anak muda di gereja.
  2. Tidak dihargai perannya di gereja.
  3. Selalu diminta untuk menolong orang, padahal gereja tidak mempedulikan permasalahan mereka.
  4. Anak muda berpikiran gereja seringkali menyalahkan budaya zaman sekarang. Misalnya tentang keberadaan gadget dan hal lainnya.
  5.  Ketidakpercayaan akan peran anak muda dan disalokasi sumber daya (contohnya si A suka bernyanyi, namun gereja menempatkannya untuk melayani dalam bidang multimedia).
  6. Anak muda ingin dimentori, bukan di kothbahi.
  7. Berhenti membicarakan tentang generasi anak muda, jika gereja sendiri tidak pernah melakukan apa-apa untuk membantu.
  8. Gereja sudah gagal untuk beradaptasi dengan zaman sekarang dan generasi muda.
  9. Membosankan.
  10. Tidak adanya fasilitas yang mendukung perkembangan anak muda di gereja.
  11. Tidak adanya komunitas yang sesuai.
  12. Gereja terlihat overprotective pada umatnya.

Pendiri Garam Ministry, Jonathan Pattiasina menegaskan bahwa bagi anak-anak muda di masa depan, pertemuan tatap muka adalah kuno. Ini makin diperparah karena generasi muda tidak lagi mempercayai otoritas yang ada di gereja.   

“Mereka tidak setuju lagi kepada institusi-institusi resmi. Buat mereka, institusi resmi adalah penghalang, mereka curang, mereka jahat. Jadi saya tidak perlu setia kepada institusi resmi. Jadi, gereja yang penampilannya selalu institusi resmi, maafkan, akan ditinggalkan,” ungkap suami dari Ina ini.  

Sumber: Sign Up Genius

Lalu apa yang bisa diperbuat oleh para gembala dan pelayan gereja sekarang? Menurut Jonathan Pattiasina, gereja harus tampil dalam komunitas-komunitas yang kuat.

“Saya tetap mempercayai tiga langkah ini dalam pemuridan-pemuridan, sharing sama anak-anak rohani saya, saya ulang-ulang, saya beritahu buat mereka bahwa kesadaran, bahwa Kristus berdiam di dalam kita itu harusnya kemudian terbawa kepada kesadaran komunal kita, semua orang datang untuk menyatakan Kristus yang ada di dalam kami, untukbersama-sama menyatakan Kristus bagi dunia karena inilah kekuatannya sekarang,” pungkas Jonathan Pattiasina.

Selain pemuridan dan mengokohkan secara komunal, sebaiknya gereja perlu sadar bahwa nasib generasi berikutnya juga ada di tangan anak-anak. Jika sedari kecil iman mereka sudah kokoh di dalam Tuhan dan diperkuat dengan kondisi keluarga yang mendukung, maka mereka tidak akan meninggalkan gereja.

Sumber: Dari berbagai sumber

Baca juga:

INI CARANYA MENGETAHUI PANGGILAN TUHAN DALAM HIDUP KITA. NOMOR 2 BIKIN KAGET

FATAL AKIBATNYA JIKA ANAK TIDAK MENDAPATKAN HAL INI, BAGAIMANA DENGAN ANAK ANDA?

AJAK ANAK MULAI BERBUAT BAIK DENGAN MELAKUKAN CARA INI. ADA TEMPLATE-NYA LHO

KLIK SHARE TO FACEBOOK UNTUK KAMU BAGIKAN ARTIKEL INI

Contasia Christie

Content Writer
Share :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK