Di kelas Sekolah Minggu, kita sering melihat anak-anak tertawa, bermain, dan aktif menjawab pertanyaan. Namun tidak semua anak yang terlihat ceria benar-benar baik-baik saja. Ada anak yang sedang menyimpan perasaan iri di dalam hatinya, tetapi belum tahu bagaimana mengungkapkannya.
Iri hati pada anak bukan hal yang aneh. Itu bagian dari proses mereka belajar mengenal diri dan memahami nilai diri mereka. Yang penting adalah bagaimana guru Sekolah Minggu bisa mengenali tanda-tandanya dan membimbing mereka dengan kasih.
Anak jarang berkata terus terang, “Aku iri.” Biasanya perasaan itu muncul lewat sikap.
Misalnya, seorang anak tiba-tiba menjadi diam ketika temannya dipuji. Ada yang mulai berkata, “Dia mah memang selalu dipilih.” Ada juga yang jadi lebih kasar, mengejek, atau justru tidak mau ikut kegiatan lagi.
Perubahan kecil seperti ini perlu diperhatikan. Iri hati sering muncul secara halus. Bisa lewat nada bicara, ekspresi wajah, atau sikap yang berubah setelah momen apresiasi.
Sebagai guru, kita perlu peka. Kadang satu pertanyaan sederhana setelah kelas seperti, “Kamu kelihatan sedih tadi, ada yang kamu rasakan?” sudah cukup membantu anak merasa diperhatikan.
Anak-anak sedang belajar menjawab satu pertanyaan penting dalam hidup mereka: “Apakah aku berharga?”
Saat mereka melihat temannya lebih cepat hafal ayat, lebih sering dipuji, atau lebih berani tampil, mereka mulai membandingkan diri. Jika tidak diarahkan, mereka bisa berpikir, “Berarti aku kurang baik.”
Dalam Alkitab, iri hati juga terlihat dalam kisah Yusuf. Kakak-kakaknya merasa tidak diperlakukan sama dan membiarkan perasaan itu tumbuh menjadi kebencian. Dari sini kita belajar bahwa iri hati yang tidak dibimbing bisa berkembang menjadi sikap yang salah.
Namun penting untuk diingat, perasaan iri itu sendiri bukan berarti anak itu jahat. Itu tanda bahwa hatinya sedang butuh dibimbing.
Guru Sekolah Minggu bukan hanya mengajar cerita Alkitab, tetapi juga membentuk hati anak.
Pertama, guru perlu menghindari perbandingan terbuka. Kalimat seperti, “Coba lihat si A, dia rajin sekali,” mungkin bermaksud baik, tetapi bisa melukai anak lain yang sedang berjuang.
Kedua, rayakan setiap usaha anak, bukan hanya hasilnya. Anak perlu tahu bahwa usahanya dihargai, meskipun belum sempurna.
Ketiga, bantu anak mengenali perasaannya. Ketika anak belajar mengatakan, “Aku sedih karena ingin juga dipuji,” itu adalah langkah besar menuju kedewasaan emosi.
Keempat, tanamkan identitas dalam Tuhan. Anak perlu diyakinkan bahwa mereka berharga bukan karena paling pintar atau paling aktif, tetapi karena mereka dikasihi Tuhan.
Jika guru melihat tanda-tanda iri hati, hindari menegur di depan teman-temannya. Ajak berbicara secara pribadi dengan nada lembut. Dengarkan lebih dulu sebelum memberi nasihat.
Anak yang merasa dimengerti akan lebih mudah diarahkan. Dari sana guru bisa menolong mereka belajar bersyukur dan melihat kelebihan yang Tuhan sudah berikan dalam hidup mereka.
Kelas Sekolah Minggu bukan tempat kompetisi. Itu adalah tempat pembentukan karakter. Tugas kita bukan membuat semua anak menjadi yang paling menonjol, tetapi menolong setiap anak memahami bahwa mereka berharga di mata Tuhan.
SuperTeachers, hati anak-anak sedang bertumbuh di tangan kita. Saat mereka dibimbing dengan kasih, iri hati bisa berubah menjadi rasa syukur dan keyakinan diri yang sehat.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK