Endang Elhani Lafau adalah seorang anak berusia 9 tahun yang duduk di kelas 4 SD. Ia tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan pengawasan orangtua dan pergaulan yang keras. Melalui kegiatan Sekolah Minggu dan Superbook, Endang seperti banyak anak lainnya mulai belajar mengenal kasih Tuhan, memahami firman, dan mengalami perubahan sikap yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Sekarang aku duduk di kelas 4 SD dan berumur 9 tahun. Aku tinggal bersama papa dan mama yang bekerja sebagai petani.
Setiap hari, papa dan mama bekerja keras. Mereka mengumpulkan pasir di sungai untuk dijual sebagai bahan bangunan. Kalau musim panas atau kemarau, pasir yang bisa dikumpulkan sedikit. Tapi kalau banjir datang, pasirnya bisa lebih banyak. Karena pekerjaan itu, papa dan mama sering pergi sejak pagi dan pulang sore hari. Aku dan anak-anak lain di sekitar rumah sering bermain tanpa pengawasan orangtua.
Di lingkunganku, banyak anak yang suka berkata kotor, membentak, dan melawan. Aku jadi terbiasa mendengar kata-kata kasar. Lama-lama, tanpa sadar, aku ikut menirunya. Kalau bertengkar dengan teman, aku memaki.
Aku juga anak yang sangat dimanjakan sejak kecil. Setiap kali papa dan mama menegur atau menasihatiku, aku tidak mau mendengar. Aku sering melawan, terutama saat diminta membantu orangtua. Kalau disuruh, aku membentak. Bahkan, kadang aku mengeluarkan kata-kata kotor kepada mereka. Padahal papa dan mama tetap mengasihiku dan tidak pernah berhenti menegur dengan sabar.
Aku sebenarnya aktif di Sekolah Minggu dan kegiatan Superbook. Setiap kali guru bertanya, “Siapa yang suka melawan orangtua?” aku selalu mengangkat tanganku. Guruku sampai bertanya langsung kepada orangtuaku, dan ternyata memang benar. Aku dikenal sebagai anak yang suka melawan.
Suatu hari, aku mengikuti kegiatan Superbook dan menonton cerita tentang perumpamaan anak yang hilang. Cerita itu sangat menyentuh hatiku. Aku melihat bagaimana seorang ayah tetap mengasihi anaknya, meskipun anak itu pergi, melawan, dan berbuat salah. Ayah itu tetap menunggu dan mengampuni dengan penuh kasih.
Saat itu aku merasa seperti anak dalam cerita itu. Aku sadar, selama ini aku sering menyakiti papa dan mamaku dengan sikapku. Aku melawan, membentak, dan memaki, tetapi mereka tetap mengasihiku. Aku merasa sangat sedih dan menyesal. Aku sadar perbuatanku tidak baik dan menyakiti hati orangtuaku.
Aku berjanji di dalam hatiku untuk berubah. Aku ingin mengasihi papa dan mama, bukan melawan mereka lagi. Aku juga berdoa bersama guru Sekolah Minggu supaya Tuhan menolongku dan membimbingku setiap hari.
Sejak saat itu, aku mulai belajar menahan diri. Aku tidak lagi memaki. Aku belajar mendengar saat orangtua berbicara dan berusaha taat ketika diminta membantu. Papa dan mama sangat bersyukur melihat perubahanku. Aku juga merasa lebih tenang dan bahagia.
Sekarang, aku ingin terus belajar mengasihi orangtuaku dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Aku tahu aku masih belajar, tetapi aku percaya Tuhan menolongku untuk terus berubah menjadi anak yang lebih baik.

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK