Sejak kecil, Fellisia Ilona Zamasi tumbuh sebagai anak yang cenderung pemalu dan penakut. Anak berusia 12 tahun dari Nias ini tinggal bersama neneknya karena orang tuanya sedang merantau. Dalam kesehariannya, Fellisia rajin mengikuti sekolah minggu, tetapi di dalam dirinya masih ada rasa minder dan takut yang sering membuatnya tidak percaya diri.
Saat ditanya apakah benar ia dulu pemalu, penakut, dan kurang percaya diri, Fellisia menjawab dengan jujur, “Benar kak, dulu aku takut dan malu sekali.”
Bagi Fellisia, rasa minder itu terasa seperti bagian dari dirinya. Ia tidak selalu tahu bagaimana menjelaskan perasaannya, tetapi ia mengakui bahwa memang seperti itulah dirinya dulu.
“Emang kayak gitu sifatku waktu itu,” katanya.
BACA JUGA: Fisiknya Diejek, Joshua Belajar Merespon dengan Hikmat Seperti Tokoh Alkitab Kesukaannya
Ketakutan Fellisia juga muncul dalam hal-hal sederhana, seperti saat berada di rumah sendiri atau ketika suasana gelap. Meskipun tidak menangis, tetapi ada rasa takut dan ragu yang membuat hatinya tidak tenang. Dalam pikirannya, muncul bayangan tentang hal-hal yang membuatnya semakin takut.
“Aku takutnya setan atau ada apa yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Namun perubahan mulai terjadi ketika Fellisia belajar dari kisah Daud dan Goliat melalui Superbook. Kisah itu terasa dekat dengan pergumulannya. Daud tampak kecil di hadapan Goliat yang besar dan menakutkan. Tetapi Daud tidak membiarkan ukuran tubuh atau rasa takut menghentikannya. Ia maju karena percaya dan mengandalkan Tuhan.
Dari kisah Daud melawan Goliat, Fellisia mulai memahami bahwa keberanian bukan berasal dari diri sendiri saja. Keberanian bertumbuh ketika seseorang percaya bahwa Tuhan menyertai dan menolongnya.
BACA JUGA: Setelah Anak Dewasa, Ibu Hastuti Baru Menyadari Luka yang Pernah Ia Tinggalkan
“Aku belajar dari Daud tentang keberanian dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya,” ungkap Fellisia.
Pelajaran dari Superbook itu perlahan menolong Fellisia melihat rasa takutnya dengan cara berbeda. Ia mulai sadar bahwa selama ini ketakutan itu sering muncul dari hatinya sendiri. Hal-hal yang ia bayangkan membuatnya semakin takut, padahal ia tidak harus dikuasai oleh rasa takut itu.
“Aku itu kemarin cuma hatiku aja yang takut-takutin aku, makanya aku jadi takut. Tapi sekarang enggak lagi lah, karena Tuhan bersamaku” katanya.
Kini, Fellisia belajar percaya bahwa Tuhan Yesus selalu ada bersamanya, bahkan ketika ia sedang sendiri atau berada dalam gelap. Ia juga mengakui bahwa Tuhan menolong dan mengubah hatinya menjadi lebih berani.
“Tuhan Yesus menolong Fellisia, merubahkan hatiku jadi pemberani,” ucapnya.
Melalui animasi Alkitab Superbook, Fellisia menemukan bahwa rasa minder dan ketakutan bisa diatasi bersama Tuhan. Seperti Daud yang menghadapi Goliat dengan mengandalkan Tuhan, Fellisia pun belajar menghadapi “Goliat” dalam dirinya: rasa takut, minder, dan tidak percaya diri.
BACA JUGA: Ketika Firman Tuhan Tidak Lagi Hanya Didengar, tetapi Juga Dialami Anak-anak
Kini, Fellisia mulai bertumbuh menjadi anak yang lebih berani karena percaya bahwa Tuhan selalu menyertainya. Mari dukung pelayanan Superbook dengan berdonasi agar semakin banyak anak mengenal firman Tuhan dengan cara yang menyenangkan, mudah dipahami, dan menemukan kekuatan serta pengharapan di dalam Tuhan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK