Bagi orang lain, membantu menyapu, mencuci piring, atau berpamitan sebelum masuk kelas mungkin terlihat seperti hal kecil. Namun bagi ayah Mentari, perubahan-perubahan sederhana itu terasa sangat berarti.
Sebelumnya, Mentari sulit sekali mendengarkan arahan orang tuanya. Saat diminta membantu pekerjaan ringan di rumah, ia masih sering menolak. Alasannya sederhana, ia merasa capek.
“Dulu kalau diminta membantu, dia suka menolak,” cerita ayah Mentari.
Bukan hanya di rumah, ayahnya juga melihat pola serupa di sekolah yang disampaikan oleh guru Mentari. Ketika mendapat tugas menulis atau diminta mengikuti kegiatan olahraga, Mentari kadang masih menunjukkan penolakan. Bagi keluarganya, itu bukan kenakalan, melainkan proses seorang anak yang sedang belajar memahami ketaatan, tanggung jawab, dan otoritas.
Puji Tuhan, perubahan mulai terasa setelah Mentari mengikuti Sekolah Minggu Superbook dan menonton kisah Abraham dan Ishak. Dari kisah itu, Mentari menangkap teladan sederhana tentang ketaatan. Saat ditanya mengapa sekarang ia lebih mau menolong orang tua, Mentari menjawab singkat, tetapi penuh makna.
“Karena aku ingin menjadi seperti Ishak,” kata Mentari.
Baginya, Ishak menjadi contoh anak yang taat kepada orang tua. Pelajaran itu tidak berhenti sebagai cerita yang ia dengar di sekolah minggu. Perlahan, nilai itu mulai terlihat dalam kesehariannya di rumah.
“Ishak itu taat sama orang tua,” lanjutnya.
Ayah Mentari melihat bahwa perubahan ini berbeda. Mentari bukan berubah karena dimarahi, dibentak, atau dihukum. Perubahan itu terasa seperti muncul dari dalam hati setelah ia memahami firman Tuhan melalui Superbook.
“Dia itu seperti berubah dari dalam,” ungkap ayahnya.
Kini, Mentari mulai lebih responsif ketika diminta membantu. Ia mau menyapu, mencuci piring bahkan mengambilkan minum. Hal-hal kecil itu membuat suasana rumah terasa berbeda.
Namun ada satu momen yang paling membekas bagi ayahnya. Saat berangkat sekolah, Mentari yang dulu kadang langsung masuk kelas begitu saja, kini mulai menyempatkan diri untuk bersalaman dan berpamitan sebelum masuk.
“Sekarang sebelum lari masuk kelas itu, menyempatkan untuk cium tangan. Saya merasa hubungan antara ayah dan anak itu semakin baik,” cerita ayahnya.
Bagi sang ayah, perubahan kecil itu membawa rasa haru, nyaman, bangga, dan tenang. Ia melihat bahwa firman Tuhan sungguh bisa bekerja dalam hati anak dengan cara yang sederhana.
Melalui Superbook, Mentari belajar bahwa ketaatan kepada Tuhan juga terlihat dari sikap mau mendengar, menghormati, dan menolong orang tua. Perubahan Mentari mungkin dimulai dari hal-hal kecil, tetapi bagi keluarganya, itu menjadi bukti besar bahwa Tuhan sedang membentuk hatinya.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK