Saat masih duduk di bangku SD, Joshua Cristiandy pernah mengalami peristiwa yang membuat hatinya sedih. Anak berusia 12 tahun dari Kalimantan Barat ini sering diejek oleh teman-temannya karena tubuhnya kecil, pendek, dan kulitnya lebih gelap.
Ejekan itu biasanya muncul saat jam istirahat sekolah. Bagi sebagian anak, mungkin itu dianggap hanya bercanda. Namun bagi Joshua, kata-kata itu terasa menyakitkan, apalagi ketika didengar berulang kali.
“Mereka bilang, woy hitam pendek,” cerita Joshua.
Setiap kali mendengar ejekan itu, Joshua merasa sedih. Ia pernah pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada mama dan papanya. Ia juga bercerita kepada Kak Della, guru sekolah minggunya di GKKI.
Namun yang menarik, Joshua tidak membalas teman-temannya. Ia tidak mengejek balik, tidak marah-marah, dan tidak memilih untuk menyakiti mereka. Meski hatinya sedih, ia mulai belajar bahwa anak Tuhan tidak dipanggil untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.
“Nggak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan,” begitu nasihat yang ia terima dari guru sekolah minggunya.
Pelajaran itu semakin kuat ketika Joshua mengikuti sekolah minggu dan menonton Superbook. Melalui kisah-kisah Alkitab yang ditayangkan, Joshua belajar melihat pergumulannya dari sudut pandang firman Tuhan.
Salah satu kisah yang membantunya adalah episode “Kasih Terbesar”, yang menceritakan kasih Tuhan Yesus. Dari kisah itu, Joshua diingatkan bahwa Tuhan Yesus rela mengampuni manusia berdosa. Jika Tuhan saja mengampuni, maka Joshua juga belajar untuk tidak menyimpan dendam kepada teman-teman yang mengejeknya.
Dari Superbook, Joshua juga belajar dari kisah Salomo. Joshua bercerita, Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dan memakai hikmat itu untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah.
“Saya belajar tentang hikmat, memilih apa yang boleh dan memilih apa yang tidak boleh,” kata Joshua.
Pelajaran tentang hikmat itu menolong Joshua ketika menghadapi ejekan. Ia belajar bahwa tidak semua perlakuan buruk harus dibalas. Ketika teman mengejek, ia memilih untuk tidak membalas, tidak dendam, dan tetap bersabar.
“Kalau kejahatan tidak boleh dibalas kejahatan. Tidak boleh dendam,” ungkapnya.
Bagi Kak Della, perubahan Joshua terlihat dari sikap hatinya. Setelah menonton Superbook dan menerima nasihat firman Tuhan, Joshua mau mengampuni teman-temannya.
“Saya mengampuni teman saya yang sering mengejek saya,” kata Joshua.
Hari ini, Joshua sudah tidak satu sekolah lagi dengan teman-teman yang dulu mengejeknya. Namun pelajaran itu tetap tinggal dalam hatinya. Ia belajar bahwa mengampuni bukan berarti tidak pernah sedih, tetapi memilih untuk tidak menyimpan dendam.
Melalui Superbook, Joshua memahami bahwa sebagai anak Tuhan, ia perlu takut akan Tuhan, sabar saat menghadapi cobaan, dan memilih respons yang benar. Dari pengalaman diejek, Joshua justru belajar bertumbuh dalam hikmat, pengampunan, dan kasih Tuhan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK