“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
— Roma 10:17
Sering kali kita berpikir bahwa memberitakan firman Tuhan berarti membuat orang lain setuju dengan kita. Kita merasa harus menjelaskan semuanya dengan benar, menjawab setiap pertanyaan, bahkan terkadang ingin memenangkan perdebatan. Tanpa sadar, kita menganggap bahwa keberhasilan memberitakan firman adalah ketika orang lain akhirnya mengatakan, “Ya, aku setuju.”
Padahal tujuan memberitakan bukanlah membuat orang langsung setuju. Tujuannya adalah supaya mereka mendengar. Alkitab mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran. Artinya, iman tidak lahir dari tekanan atau argumen yang paling kuat, melainkan dari seseorang yang terus-menerus mendengar firman Tuhan. Karena itu, ketika kita berbicara tentang iman kepada orang lain, kita sebenarnya sedang membuka ruang agar mereka mendengar kebenaran, bukan memaksa mereka menerima.
Kita bisa membayangkannya seperti sebuah botol dua liter yang sebelumnya berisi Coca-Cola. Jika kita terus menuangkan air ke dalam botol itu, lama-lama isinya akan berubah menjadi air saja. Bukan karena kita memaksanya, tetapi karena apa yang terus kita tuangkan perlahan menggantikan yang sebelumnya ada di dalamnya. Hal yang sama terjadi ketika seseorang terus mendengar firman Tuhan. Mungkin kita tidak langsung melihat perubahan, tetapi setiap percakapan, setiap kesaksian, dan setiap firman yang kita bagikan adalah benih yang sedang ditaburkan.
Sering kali kita merasa tidak nyaman ketika orang lain tidak setuju dengan iman kita. Ada dorongan untuk menjelaskan lebih keras atau lebih panjang supaya mereka akhirnya menerima. Namun Yesus sendiri tidak selalu memaksa orang untuk percaya. Ia menyampaikan kebenaran, lalu memberi ruang bagi orang untuk memikirkannya. Firman Tuhan bekerja dengan cara yang tenang. Ia perlahan mengubah cara pandang seseorang, mengguncang pemikiran lama, dan menumbuhkan kerinduan di dalam hati sebelum iman benar-benar muncul.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang iman, yang paling penting bukanlah membuat orang langsung berubah. Yang penting adalah mereka mendengar. Jika seseorang terbuka untuk berbicara, bertanya, atau berpikir lebih dalam, itu sudah seperti tanah yang siap ditaburi. Kita hanya perlu terus hadir dan terus menabur.
Kadang kita takut dianggap gagal jika seseorang tidak langsung percaya setelah mendengar firman Tuhan. Namun Alkitab mengingatkan bahwa pertumbuhan adalah milik Tuhan. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan kesabaran, kerendahan hati, dan kasih. Kita tidak mengatur bagaimana hati seseorang merespons.
Ketika orang merasa dihormati, mereka akan lebih mudah mendengarkan. Sebaliknya, ketika mereka merasa ditekan, mereka cenderung menutup diri. Karena itu, memberitakan firman bukan tentang mengalahkan cara pandang orang lain, melainkan membiarkan Firman Tuhan bekerja perlahan, tetapi pasti, di dalam hati mereka.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK