Mengasihi anak sering kali diartikan sebagai selalu mengiyakan dan menghindari konflik. Banyak orangtua takut melukai perasaan anak ketika harus menegur atau memberi konsekuensi. Padahal, kasih yang sejati tidak selalu hadir dalam bentuk kenyamanan. Ada kalanya kasih justru menuntut keberanian untuk bersikap tegas demi kebaikan anak dalam jangka panjang.
Kisah Hosea dan Gomer memperlihatkan gambaran kasih yang tidak mudah. Hosea tetap mengasihi Gomer, meskipun ia berulang kali tidak setia. Namun, kasih tersebut tidak pernah mengubah kebenaran bahwa apa yang dilakukan Gomer adalah kesalahan. Tuhan tidak membenarkan ketidaksetiaan, meskipun Ia tetap membuka jalan pemulihan. Dari sini, kita belajar bahwa kasih dan kebenaran seharusnya berjalan bersama, bukan dipertentangkan.
Dalam praktik parenting, penerimaan sering kali keliru dipahami sebagai pembenaran. Orangtua menerima anak apa adanya, tetapi tanpa sadar membiarkan perilaku yang keliru terus berulang. Ketika kesalahan tidak diarahkan, anak bisa tumbuh tanpa memahami tanggung jawab dan dampak dari pilihannya. Situasi ini dapat membuat anak kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang perlu diperbaiki.
Kasih yang tidak disertai batasan justru dapat melukai anak dalam jangka panjang. Anak membutuhkan aturan dan konsekuensi agar merasa aman dan tahu arah yang benar. Sama seperti Tuhan yang mengasihi umat-Nya tetapi tetap menegur mereka demi kebaikan, orangtua pun dipanggil untuk menetapkan batasan sebagai wujud kasih yang dewasa dan bertanggung jawab.
Mengasihi anak bukan berarti melabeli mereka berdasarkan kesalahannya. Yang perlu dikoreksi adalah perilaku, bukan identitas anak. Ketika orangtua menegur dengan sikap yang tenang dan konsisten, anak belajar bahwa mereka tetap dikasihi meskipun harus bertanggung jawab atas tindakannya. Dari sinilah anak belajar tentang keadilan yang disertai belas kasih.
Disiplin yang diberikan dengan kasih menolong anak bertumbuh dalam pengendalian diri dan kepekaan moral. Melalui proses ini, anak memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, tetapi mereka tidak pernah kehilangan kasih orangtuanya. Pada akhirnya, orangtua diajak belajar dari kisah Hosea dan Gomer bahwa kasih sejati tidak membenarkan kesalahan, melainkan menuntun pada pemulihan melalui kebenaran dan kesetiaan yang konsisten.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK