“Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.”
— 1 Korintus 8:1 (TB)
Ingin bertumbuh dengan Tuhan itu hal yang baik. Suka membaca Alkitab juga baik. Belajar tentang kebenaran pun tidak salah. Masalahnya muncul ketika kita hanya menambah pengetahuan, tetapi tidak mau menyerahkan hidup kepada Tuhan.
Sekarang ini banyak orang rajin mendengar khotbah, menonton konten rohani, atau membaca renungan. Satu demi satu, selalu belajar. Tetapi jarang ada yang benar-benar berubah. Pengetahuan bisa membuat kita merasa sudah cukup rohani. Padahal kalau tidak disertai ketaatan, hati kita bisa jadi keras. Kita merasa sudah tahu, jadi sulit dinasihati dan sulit dikoreksi.
Orang-orang Farisi pada zaman Yesus sangat mengenal Kitab Suci. Mereka hafal ayat, mengajarkannya, dan membelanya. Tetapi ketika Yesus datang, mereka tidak menerima-Nya. Bukan karena mereka tidak tahu firman, tetapi karena mereka tidak mau tunduk. Mereka ingin tetap memegang kendali. Yesus mengajak mereka untuk mengikuti-Nya. Namun mereka tidak mau dipimpin. Mereka lebih suka menjadi pengatur daripada menjadi murid.
Hal seperti ini juga bisa terjadi sekarang. Banyak orang berkata ingin Tuhan. Tetapi sebenarnya yang dicari hanya rasa semangat atau perasaan tersentuh. Mereka suka mendengar pengajaran, tetapi tidak suka ditegur. Mereka bicara tentang kasih karunia, tetapi menolak otoritas Tuhan dalam hidup mereka.
Tuhan hanya dijadikan tambahan dalam hidup, bukan menjadi Tuhan yang benar-benar ditaati.
Pengetahuan tanpa penyerahan diri bisa membuat kita sombong tanpa sadar. Kelihatannya seperti bijaksana, padahal hanya merasa diri paling benar. Kita jadi cepat mengkritik orang lain, tetapi lambat mengakui kesalahan sendiri. Yakin dengan pendapat, tetapi kurang taat dalam tindakan. Yesus tidak pernah berkata, “Pelajarilah semua tentang Aku.” Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Mengikut berarti percaya. Dan percaya berarti mau menyerahkan kendali hidup kepada-Nya.
Tujuan Alkitab bukan supaya kita terlihat pintar, tetapi supaya hidup kita berubah. Kebenaran bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati. Jika kita tahu banyak tetapi tidak taat, kita tidak sedang bertumbuh. Kita hanya berjalan menurut kehendak sendiri. Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37, TB). Mengasihi Tuhan berarti bukan hanya mengenal-Nya, tetapi juga hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Karena kasih yang sejati selalu disertai penyerahan diri.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK