Tidak sedikit orangtua berpikir bahwa tekanan dari teman sebaya atau peer pressure baru terjadi saat anak beranjak remaja. Padahal kenyataannya, sejak usia sekolah dasar pun anak sudah mulai mengalaminya.
Dalam keseharian yang terlihat sederhana, anak bisa mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan bahkan sampai melakukan hal yang sebenarnya mereka tahu itu tidak benar, hanya supaya diterima.
Situasi seperti ini nyata terjadi, salah satunya dalam kisah seorang anak yang terbiasa mengejek temannya karena dorongan dari lingkungan. Ia melakukan itu bukan karena ingin menyakiti, tetapi karena takut tidak punya teman.
Dari sini, penting bagi orangtua untuk mulai lebih peka. Berikut beberapa hal yang perlu dipahami dan dilakukan.
Di usia sekolah dasar, anak mulai memahami arti “punya teman” dan “menjadi bagian dari kelompok”. Mereka ingin:
diterima
tidak dikucilkan
merasa “punya tempat”
Keinginan ini sangat wajar. Namun, di fase ini anak juga belum memiliki filter yang kuat untuk membedakan mana yang benar dan salah dalam pergaulan.
Ketika berada dalam kelompok, anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya. Termasuk hal-hal seperti:
mengejek teman lain
menertawakan kesalahan orang lain
melakukan sesuatu hanya karena “semua juga melakukan”
Sering kali, anak tidak benar-benar ingin melakukan itu. Mereka hanya tidak ingin berbeda sendiri.
Di usia ini, anak masih dalam proses belajar membangun nilai hidup. Mereka:
belum terbiasa mengambil keputusan sendiri
mudah terpengaruh lingkungan
belum memahami dampak dari perkataan dan tindakan mereka
Karena itu, tanpa pendampingan, anak bisa terbiasa melakukan hal yang salah tanpa sadar.
Ketika kebiasaan seperti mengejek atau merendahkan orang lain terus dilakukan, ada dampak yang perlu diwaspadai:
anak menjadi kurang peka terhadap perasaan orang lain
menganggap menyakiti sebagai hal yang biasa
membangun relasi dengan cara yang tidak sehat
Hal ini bukan hanya berdampak pada orang lain, tetapi juga pada pembentukan karakter anak itu sendiri.
Salah satu hal penting yang perlu diajarkan adalah keberanian untuk tidak ikut-ikutan.
Anak perlu tahu bahwa:
tidak semua ajakan teman harus diikuti
mengatakan “tidak” bukan berarti kehilangan teman
melakukan yang benar lebih penting daripada sekadar diterima
Keberanian ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi perlu dilatih sejak dini.
Anak yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih kuat menghadapi tekanan dari luar.
Orangtua dapat membantu dengan:
memberi afirmasi positif
menghargai usaha anak
menciptakan ruang aman untuk bercerita
Ketika anak merasa cukup “diterima” di rumah, ia tidak akan terlalu bergantung pada penerimaan dari lingkungan luar.
Lebih dari sekadar aturan, anak perlu memahami nilai.
Ajarkan bahwa:
setiap tindakan dilihat oleh Tuhan
hidup benar berarti menyenangkan hati-Nya
memperlakukan orang lain dengan baik adalah bagian dari iman
Nilai inilah yang akan menjadi kompas saat anak harus memilih di tengah tekanan.
Kabar baiknya, anak tidak harus melakukan hal yang salah untuk bisa diterima. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar bahwa memiliki teman tidak harus dibangun dari kebiasaan yang menyakiti orang lain.
Perubahan itu mungkin terjadi. Ketika anak mulai memahami mana yang benar dan berani melakukannya, ia tidak hanya bertumbuh dalam karakter, tetapi juga dalam iman. Dan di situlah peran orangtua menjadi sangat penting—sebagai penuntun, pendamping, dan kompas yang membantu anak tetap berada di jalan yang benar.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK