ARTICLE

Tue - Mar 03, 2026 / 95 / Parenting

Membangun Identitas Anak, Saat Perasaan Tidak Cukup Bertemu dengan Kebenaran

Rasa Tidak Cukup

Ternyata bisa muncul sejak usia dini. Anak-anak yang terlihat ceria dan aktif pun bisa diam-diam menyimpan pikiran seperti, “Aku tidak sepintar teman-temanku,” atau “Aku selalu salah.” Perasaan ini sering kali tidak langsung terlihat karena anak tidak selalu mampu mengungkapkannya dengan jelas. Mereka hanya tampak lebih pendiam, lebih sensitif, atau mulai menarik diri.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Banyak orang tua fokus memperbaiki perilaku, tetapi lupa menggali perasaan di baliknya. Padahal, rasa tidak cukup bukan sekadar masalah emosi sesaat. Jika dibiarkan, ia dapat membentuk cara anak memandang dirinya dalam jangka panjang.

Pada saat yang sama, kita perlu mengajarkan satu hal mendasar kepada anak: perasaan bukanlah selalu kebenaran. Perasaan bisa berubah-ubah. Hari ini anak merasa mampu, besok ia merasa gagal. Hari ini ia percaya diri, besok ia merasa tertinggal. Namun identitas tidak boleh dibangun di atas sesuatu yang berubah.

Anak perlu dibimbing untuk memahami perbedaan antara apa yang ia rasakan dan apa yang benar tentang dirinya. Ia mungkin merasa tidak pintar, tetapi kebenarannya ia sedang belajar. Ia mungkin merasa tidak cukup baik, tetapi kebenarannya ia tetap berharga. Ketika orang tua secara konsisten mengingatkan kebenaran ini, anak belajar memiliki fondasi yang kokoh.

 

BACA JUGA : Kisah Penciptaan Dunia dan Kejatuhan Manusia, Kamu Tetap Berharga!

 

Dalam konteks iman, kebenaran terbesar adalah bahwa manusia diciptakan dengan sangat baik. Nilai diri anak tidak berasal dari nilai ujian, pujian guru, atau perbandingan dengan teman. Nilai diri mereka berasal dari Tuhan yang menciptakan mereka dengan tujuan dan kasih.

Parenting yang sehat bukan berarti meniadakan perasaan anak.

Justru sebaliknya, orang tua perlu mengakui perasaan itu: “Mama tahu kamu merasa sedih,” atau “Papa tahu kamu merasa tidak cukup.” Namun setelah mengakui, orang tua menuntun anak kembali pada kebenaran: “Tapi perasaan itu bukan siapa kamu sebenarnya.”

Ketika anak belajar bahwa perasaan bisa datang dan pergi, tetapi kebenaran tentang dirinya tetap, ia akan memiliki ketahanan emosional yang jauh lebih kuat. Ia tidak mudah runtuh oleh kegagalan, tidak mudah goyah oleh perbandingan, dan tidak mudah mendefinisikan dirinya berdasarkan satu kesalahan.

Pada akhirnya, membangun identitas anak adalah proses yang berulang. Orang tua menjadi suara yang mengingatkan, meneguhkan, dan menanamkan kebenaran sampai anak mampu mengatakannya sendiri:

“Aku mungkin belum bisa, tetapi aku tetap berharga.”

Miranda Rachel

Penulis Konten
Share :

Tags :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK