Tidak semua potensi anak terlihat di nilai akademis. Ada anak yang sejak kecil sudah suka “berpikir jualan”—dan itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar.
Setiap anak punya keunikan. Ada yang menonjol di akademis, ada yang di seni, dan ada juga yang sejak kecil sudah menunjukkan minat dalam berjualan.
Mungkin terlihat dari hal-hal sederhana—suka menawarkan barang ke teman, senang menghitung uang kembalian, atau punya ide kreatif untuk “jualan kecil-kecilan”.
Potensi ini bukan untuk diabaikan, tapi diarahkan.
Dan di tengah dunia yang semakin sadar akan lingkungan, orangtua punya kesempatan untuk bukan hanya mendukung jiwa bisnis anak, tetapi juga membentuk hati yang peduli.
Berikut beberapa ide usaha ramah lingkungan yang bisa menjadi langkah awal.
Anak-anak biasanya suka berkreasi.
Orangtua bisa mengajak anak mengolah barang bekas seperti botol plastik, kardus, atau kain perca menjadi produk baru—tempat pensil, hiasan, atau aksesori.
Selain melatih kreativitas, anak juga belajar bahwa “barang bekas” masih punya nilai.
Tanaman sedang jadi tren, dan ini bisa jadi peluang bagus untuk anak.
Mulai dari tanaman hias kecil, kaktus, atau bibit sayur sederhana.
Anak belajar merawat, sabar, dan memahami proses sebelum menjual hasilnya.
Kalau anak suka memasak atau membantu di dapur, ini bisa jadi peluang.
Orangtua bisa mengajak anak menjual makanan sederhana dengan kemasan ramah lingkungan—misalnya tanpa plastik sekali pakai.
Sekaligus mengajarkan bahwa usaha juga bisa bertanggung jawab.
Ajarkan anak bahwa tidak semua barang harus baru.
Orangtua bisa membantu anak menjual kembali barang yang masih layak pakai—baju, buku, atau mainan.
Ini melatih anak untuk tidak konsumtif dan lebih bijak dalam menggunakan barang.
Usaha tidak selalu harus berupa barang.
Anak bisa mulai dari jasa sederhana—seperti membantu menyiram tanaman tetangga, membersihkan halaman, atau merapikan buku.
Dari sini, anak belajar bahwa bekerja juga tentang melayani.
Misalnya membuat gelang dari tali, kerajinan dari daun kering, atau pewarna alami untuk karya seni.
Anak belajar bahwa alam bisa menjadi sumber inspirasi, bukan hanya untuk diambil, tapi juga dijaga.
Ini bisa jadi langkah yang lebih dalam.
Anak tidak hanya menjual produk, tapi juga membawa pesan—misalnya ajakan mengurangi plastik, menjaga kebersihan, atau mencintai lingkungan.
Dari sini, anak belajar bahwa bisnis bukan hanya soal untung, tapi juga dampak.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK