Tidak semua luka masa kecil hilang seiring bertambahnya usia.
Beberapa justru tinggal lebih lama bersembunyi dalam cara kita berpikir, merasa, dan menilai diri sendiri.
Kisah Lauren, seorang anak yang pernah diejek karena penampilannya dan diragukan kemampuannya, mungkin terdengar sederhana. Namun di balik itu, ada cerminan yang dekat dengan banyak orang dewasa hari ini.
Tanpa sadar, apa yang dulu kita dengar… masih kita percayai sampai sekarang.
Berikut beberapa hal yang sering terjadi—dan mungkin, juga sedang dirasakan :
Bagi anak-anak, ejekan bukan hal kecil. Kata-kata seperti “aneh”, “jelek”, atau “tidak bisa” bisa tertanam lebih dalam dari yang terlihat.
Lauren mengalaminya. Ia mulai meragukan dirinya bukan karena gagal, tapi karena terlalu sering mendengar hal yang salah tentang dirinya.
Dan tanpa sadar, banyak orang dewasa hari ini masih membawa suara-suara itu dalam pikirannya.
Bertambah usia tidak selalu berarti kita sudah pulih.
Ada luka yang tidak pernah benar-benar diproses—hanya ditutupi dengan kesibukan, pencapaian, atau bahkan senyuman.
Namun di momen tertentu, luka itu muncul kembali: saat gagal, saat dibandingkan, atau saat merasa tidak cukup.
Menariknya, Lauren bukan anak yang “tidak bisa”. Ia justru aktif, pintar, dan sering ditunjuk guru.
Namun justru karena ia terlihat, ia menjadi target.
Hal yang sama bisa terjadi dalam hidup kita. Terkadang, rasa minder bukan datang karena kita kurang, tapi karena kita pernah dibuat merasa “terlalu berbeda”.
Apa yang sering didengar, perlahan menjadi apa yang dipercaya.
Lauren sempat melihat dirinya sebagai “tidak cukup baik”. Bukan karena itu fakta, tetapi karena itu yang terus ia dengar.
Sebagai orang dewasa, kita pun bisa terjebak dalam hal yang sama—membiarkan opini orang lain lebih kuat daripada kebenaran tentang diri kita.
Kisah Daud dan Goliat bukan hanya tentang kemenangan fisik, tetapi tentang keberanian yang lahir dari kepercayaan kepada Tuhan.
Daud tidak membiarkan ukuran dirinya menentukan keberaniannya.
Lauren belajar dari sini—bahwa yang harus dikalahkan bukan hanya “Goliat di luar”, tetapi juga rasa takut dan keraguan di dalam hati.
Perubahan Lauren tidak terjadi dalam semalam.
Namun ia mulai belajar satu hal penting: tidak semua suara harus dipercaya.
Ia mulai mengganti rasa takut dengan doa, dan keraguan dengan kepercayaan kepada Tuhan.
Di situlah pemulihan dimulai.
Dunia mungkin cepat memberi label: tidak cukup, tidak menarik, tidak mampu.
Tetapi Tuhan tidak pernah bekerja dengan cara itu.
Seperti Daud yang dipandang kecil oleh manusia, tetapi dipilih oleh Tuhan—demikian juga setiap kita memiliki nilai yang tidak ditentukan oleh pendapat orang lain.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK