Coba jujur, berapa kali kita buka HP tanpa tujuan yang jelas? Awalnya cuma mau cek notifikasi, lalu lanjut satu video, lalu satu lagi, dan tahu-tahu waktu sudah berjalan cukup lama. Tanpa sadar, ini jadi kebiasaan yang terus terulang hampir setiap hari.
Screentime sekarang bukan cuma soal hiburan. Sering kali, itu jadi cara paling cepat untuk “lari” sebentar dari rasa capek, bosan, atau bahkan kosong. Saat hari terasa berat, kita scroll. Saat pikiran penuh, kita cari distraksi. Tapi setelah semua itu selesai, pertanyaannya tetap sama: apakah kita benar-benar merasa lebih baik?
Di layar, kita melihat banyak hal—orang-orang yang terlihat bahagia, hidup yang terasa rapi, pencapaian yang seolah berjalan mulus. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Kita merasa hidup orang lain lebih menarik, sementara kita merasa tertinggal.
Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari hidup mereka. Tapi tetap saja, semakin lama kita scroll, semakin kita merasa kurang. Kita terus melihat, terus mengonsumsi, tapi jarang berhenti untuk benar-benar mencerna. Akhirnya, kepala terasa penuh, tapi hati tetap kosong.
Tanpa disadari juga, kita jadi kehilangan kehadiran di hidup sendiri. Kita ada di satu tempat, tapi pikiran ke mana-mana. Kita berbicara dengan orang lain, tapi tidak benar-benar hadir. Kita punya waktu, tapi tidak benar-benar menikmatinya. Kita sibuk melihat hidup orang lain, sampai lupa menjalani hidup kita sendiri.
Kalau dipikir-pikir, mungkin alasan kita terus mencari layar adalah karena kita tidak nyaman dengan diam. Saat tidak ada distraksi, pikiran mulai muncul, perasaan yang belum selesai ikut terasa, dan itu tidak selalu mudah untuk dihadapi.
Akhirnya, layar jadi pelarian yang paling cepat. Padahal justru di dalam keheningan itu, ada ruang untuk kita memahami diri sendiri dengan lebih jujur. Di situ juga kita bisa lebih peka mendengar suara Tuhan.
Dalam kehidupan Yesus Kristus, kita bisa melihat bahwa Ia sering mengambil waktu untuk menyendiri. Bukan karena lemah, tetapi karena di sanalah kekuatan dibangun.
Karena itu, kita tidak harus langsung menjauh dari layar sepenuhnya. Yang perlu kita lakukan adalah mulai lebih sadar. Sadar kapan kita benar-benar butuh istirahat, dan kapan kita hanya sedang lari. Mulai dari hal kecil—berani berhenti sebelum keterusan, dan memberi ruang untuk hadir dalam hidup nyata.
Pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar distraksi, tetapi koneksi—dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan Tuhan. Dan hal-hal itu tidak bisa ditemukan hanya dengan terus scroll.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK