Banyak orangtua mulai merasa anaknya berubah. Anak yang dulu sering cerita sekarang lebih diam, yang dulu terbuka sekarang terasa menjaga jarak, bahkan kadang terlihat seperti “defensive” setiap kali diajak bicara. Padahal perubahan ini biasanya bukan karena anak tiba-tiba tidak peduli lagi, tapi karena mereka sedang berada di fase di mana mereka ingin dimengerti sekaligus takut disalahpahami. Ketika anak merasa setiap percakapan bisa berubah jadi nasihat atau teguran, mereka pelan-pelan memilih untuk menutup diri. Akibatnya, orangtua merasa anak semakin jauh, sementara anak merasa orangtua tidak benar-benar mendengarkan. Dari sinilah jarak itu mulai terbentuk — bukan karena tidak saling sayang, tapi karena tidak saling memahami.
Yang sering tidak kita sadari, anak remaja sebenarnya masih ingin didengar. Mereka masih ingin punya tempat pulang untuk cerita, hanya saja caranya sudah tidak sama seperti waktu mereka kecil. Kalau dulu mereka bisa cerita apa saja tanpa berpikir panjang, sekarang mereka mulai lebih hati-hati. Mereka mulai takut dihakimi, takut dibilang salah, atau takut dibandingkan dengan orang lain. Karena itu, hal pertama yang perlu dibangun bukanlah nasihat yang lebih banyak, tapi rasa aman yang lebih besar.
Salah satu cara paling sederhana untuk mulai membangun komunikasi lagi adalah dengan belajar mendengar tanpa langsung memperbaiki. Kadang orangtua tidak bermaksud menghakimi, hanya ingin membantu. Tapi di telinga anak remaja, nasihat yang terlalu cepat justru terasa seperti kritik. Ketika anak cerita sesuatu, coba tahan dulu keinginan untuk langsung memberi solusi. Dengarkan sampai selesai, dan biarkan mereka merasa bahwa cerita mereka memang penting.
Selain itu, komunikasi dengan anak remaja biasanya tidak berhasil kalau selalu dimulai dari hal yang serius. Banyak anak justru lebih mudah terbuka lewat percakapan kecil yang santai. Bukan tentang nilai, bukan tentang kesalahan, tapi tentang hal-hal ringan yang membuat mereka merasa nyaman. Dari percakapan kecil seperti itulah pelan-pelan rasa percaya bisa kembali tumbuh.
Hal lain yang sering membuat anak terlihat “defensive” adalah karena mereka merasa setiap kesalahan langsung dibesar-besarkan. Padahal di usia ini, mereka memang sedang belajar. Mereka sedang mencoba memahami siapa diri mereka, apa yang mereka sukai, dan bagaimana menghadapi dunia di luar rumah. Kalau setiap kesalahan langsung disambut dengan kemarahan, mereka akan memilih untuk diam. Bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa tidak aman.
Yang Anak Remaja Butuhkan Bukan Nasihat yang Banyak, Tapi Orangtua yang Mau Mendengar
Membangun komunikasi dengan anak remaja memang tidak bisa dilakukan dalam satu hari. Tidak ada cara instan untuk membuat mereka langsung terbuka lagi. Tapi kabar baiknya, komunikasi tidak harus dimulai dari hal besar. Kadang yang paling berarti justru hal yang paling sederhana: nada bicara yang lebih lembut, respon yang tidak terburu-buru, dan kesediaan untuk benar-benar mendengar.
Yang perlu diingat, anak yang terlihat menjaga jarak bukan berarti sudah tidak membutuhkan orangtuanya. Justru di fase inilah mereka membutuhkan orangtua yang lebih sabar, lebih tenang, dan lebih mau memahami daripada sekadar menasihati. Komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling benar, tapi tentang siapa yang paling mau mengerti lebih dulu.
Karena pada akhirnya, anak remaja tidak selalu membutuhkan orangtua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orangtua yang tetap hadir, bahkan ketika mereka sedang sulit dimengerti.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK