Bukan karena kurang tidur atau pekerjaan yang menumpuk, melainkan lelah yang tinggal di dalam, di pikiran dan hati. Kelelahan mental sering kali kita akan merasa sunyi. Tidak banyak kata, tidak banyak air mata, hanya rasa berat yang terus dibawa ke mana pun pergi.
Hidupnya baik dan diberkati. Namun dalam waktu singkat, semuanya runtuh. Anak-anaknya meninggal, hartanya lenyap, dan tubuhnya dipenuhi penyakit. Kehilangan datang tanpa jeda, seolah tidak memberi ruang untuknya bernapas atau memahami apa yang sedang terjadi. Yang sering terlewat, penderitaan Ayub bukan hanya soal fisik. Ia mengalami kelelahan mental yang mendalam. Ayub duduk dalam abu, tubuhnya sakit, pikirannya penuh pertanyaan. Orang-orang terdekatnya datang, tetapi lebih banyak memberi penilaian daripada pengertian. Mereka berbicara, namun tidak sungguh-sungguh mendengar.
Di tengah kondisi itu, Ayub memilih untuk berbicara. Ia mengeluh. Ia mempertanyakan hidupnya. Ia menuangkan isi hatinya dengan jujur. Ayub bahkan mengutuk hari kelahirannya. Namun satu hal penting: Ayub tidak berhenti datang kepada Tuhan. Ia tidak menjauh. Ia tetap berbicara kepada Tuhan, meski dengan hati yang lelah dan kata-kata yang berantakan.
BACA JUGA : Belajar Mengasihi Tanpa Mengharapkan Balasan
Kisah Ayub mengajarkan bahwa mengeluh tidak sama dengan meninggalkan iman. Iman yang sejati tidak selalu berbentuk kata-kata indah atau sikap kuat tanpa celah. Kadang iman terlihat dari keberanian untuk tetap datang kepada Tuhan apa adanya. Ada masa panjang dalam hidup Ayub ketika Tuhan terasa seperti 'diam', 'Tidak ada penjelasan' 'Tidak ada jawaban cepat'
Dalam kelelahan mental, Tuhan sering kali tidak langsung memberi jawaban, tetapi Ia menopang kita untuk tetap bertahan. Ia menjaga kita agar tidak benar-benar jatuh, meski kita belum mengerti arah hidup yang sedang dijalani. Pada akhirnya, Tuhan memang memulihkan Ayub. Namun sebelum pemulihan itu datang, ada hal yang lebih dulu bertumbuh: hubungan Ayub dengan Tuhan. Ayub berkata bahwa sebelumnya ia hanya mendengar tentang Tuhan, tetapi kini ia mengenal-Nya secara pribadi. Pengenalan itu lahir di tengah kelelahan, bukan kenyamanan.
Mungkin hari ini kita sedang berada di fase seperti Ayub. Capek secara mental. Bingung. Doa terasa hampa. Jika iya, kita tidak sendirian. Kisah Ayub ditulis bukan untuk menuntut kita selalu kuat, tetapi untuk mengingatkan bahwa Tuhan tetap setia menemani orang yang lelah.
Jika Anda sedang menghadapi tantangan dalam hubungan atau membutuhkan bimbingan konseling, kami mengundang Anda untuk menghubungi Layanan Doa dan Konseling(klik disini) CBN. Kami siap dengan senang hati memberikan bantuan dan dukungan untuk Anda.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK