“Kata-Nya kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.’”
— Lukas 12:15 (TB)
Pernah gak sih kita merasa, “Kayaknya kalau aku punya ini, aku bakal lebih tenang deh”? Entah itu barang, pencapaian, atau sesuatu yang sudah lama di inginkan. Rasanya seperti ada harapan kecil di dalam hati kalau itu akhirnya jadi milik kita, semuanya akan terasa lebih baik.
Dan memang, di awal biasanya terasa menyenangkan. Ada rasa lega, bahkan bahagia. Tapi sering kali, itu cuma bertahan sebentar. Lama-lama jadi biasa aja. Lalu tanpa sadar, kita mulai mencari “hal berikutnya” untuk dikejar.
Bukan karena kita serakah. Tapi karena kita sedang menaruh harapan di tempat yang salah.
Yesus sudah mengingatkan dengan sangat jelas—hidup kita tidak ditentukan dari apa yang kita miliki. Artinya, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kepemilikan. Ada kebutuhan hati yang tidak bisa dipenuhi oleh benda.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita bukan cuma ingin punya sesuatu. Kita ingin merasa damai. Kita ingin merasa cukup. Kita ingin merasa “utuh.”
Masalahnya, kita sering meminta hal-hal yang sementara untuk mengisi kebutuhan yang sifatnya kekal.
Barang bisa memberi rasa senang, tapi tidak bisa memberi damai yang menetap. Barang bisa memberi rasa percaya diri sesaat, tapi tidak bisa memberi rasa berharga yang sejati. Karena memang dari awal, mereka tidak pernah dirancang untuk itu.
Di sisi lain, Tuhan menawarkan sesuatu yang berbeda.
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
— Yohanes 10:10 (TB)
Yesus tidak menjanjikan hidup yang penuh dengan barang, tapi hidup yang benar-benar penuh. Penuh damai. Penuh makna. Penuh kehadiran-Nya.
Dan yang menarik, kepenuhan ini tidak bergantung pada kondisi luar kita.
Tuhan tidak melarang kita menikmati hal-hal baik. Kita tetap boleh senang saat dapat sesuatu, boleh bersyukur saat punya berkat. Tapi bedanya, kita tidak lagi bergantung pada itu untuk merasa baik-baik saja.
Di sinilah kita belajar satu hal penting: merasa cukup bukan berarti kita punya sedikit, tapi kita tidak lagi membutuhkan banyak untuk merasa utuh.
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar…”
— 1 Timotius 6:6 (TB)
Saat hati kita dipenuhi oleh Tuhan, posisi benda jadi kembali normal. Bukan sumber kebahagiaan, tapi hanya tambahan. Bukan penentu damai, tapi sekadar pelengkap.
Dan dari situ, ada kebebasan yang pelan-pelan kita rasakan. Kita bisa menikmati tanpa takut kehilangan. Kita bisa melepaskan tanpa merasa hancur. Karena yang jadi sumber kita bukan sesuatu yang bisa hilang.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK