Ada fase dalam pelayanan yang sebenarnya cukup banyak orang alami, tapi jarang dibicarakan. Bukan karena tidak mengasihi Tuhan, bukan juga karena tiba-tiba jadi malas. Tapi karena di dalam hati, kita mulai merasa lelah… dan lelahnya bukan lelah biasa.
Kadang yang membuat kita jenuh bukan cuma pelayanannya. Tapi tekanan untuk selalu terlihat kuat. Selalu semangat. Selalu siap. Selalu “all out buat Tuhan”. Kalimat itu sebenarnya terdengar rohani banget. Tapi kalau di dalam hati kita sudah capek, kalimat itu malah terasa seperti beban.
Yang sering terjadi bukan kita tidak mau melayani lagi. Kita masih mau. Kita masih peduli. Kita masih sayang Tuhan. Tapi di dalam diri kita ada bagian yang diam-diam cuma ingin istirahat sebentar. Bahkan mungkin ada yang pernah berpikir, “Aku pengen jadi jemaat aja dulu.” Dan biasanya setelah pikiran itu muncul, langsung disusul rasa bersalah.
Padahal, jenuh dalam pelayanan bukan berarti kita kehilangan panggilan. Bisa jadi kita hanya kehilangan tenaga. Kita terlalu lama berusaha kuat tanpa pernah benar-benar istirahat. Kita terlalu sering berkata “iya” ketika sebenarnya hati kita sudah lelah.
Yang sering tidak kita sadari, Tuhan tidak pernah meminta kita melayani dengan hati yang kosong. Tuhan juga tidak pernah menuntut kita terlihat kuat terus. Justru yang Tuhan mau adalah hati yang jujur. Hati yang berani bilang, “Tuhan, aku masih mau melayani, tapi aku juga lagi capek.”
Dan mungkin hari ini ada orang yang sedang merasa seperti ini tapi tidak berani cerita ke siapa-siapa. Takut dibilang tidak rohani. Takut dianggap tidak setia. Padahal, lelah tidak selalu berarti kita sedang menjauh dari Tuhan. Kadang justru kita lelah karena terlalu lama berusaha dekat.
Kalau hari ini hati terasa jenuh dalam pelayanan, mungkin yang kita butuhkan bukan teguran, tapi pemulihan. Bukan disuruh lebih kuat lagi, tapi diingatkan kalau kita juga manusia. Dan manusia memang butuh istirahat.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mengasihi kita hanya saat kita melayani. Dia tetap mengasihi kita bahkan saat kita sedang diam dan mencoba pulih.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK