“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” – Amsal 3:5 (TB)
Pernah nggak sih, pikiran terasa penuh banget sampai capek sendiri?
Mengulang percakapan yang sudah lewat, membayangkan kemungkinan yang belum tentu terjadi, atau terus menganalisis keputusan yang sebenarnya sudah dibuat.
Sering kali kita menyebutnya overthinking. Kita pikir itu karena kita terlalu banyak berpikir.
Padahal, kalau dilihat lebih dalam… akar dari overthinking bukan sekadar pikiran yang ramai.
Tapi hati yang sedang berusaha memegang kendali.
Kita ingin kepastian, jadi kita ulang-ulang.
Kita ingin rasa aman, jadi kita bayangkan semua kemungkinan.
Kita takut salah, jadi kita analisis tanpa henti.
Tanpa sadar, kita sedang mencoba melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk kita tanggung: mengontrol semuanya.
Menariknya, overthinking bukan berarti kita tidak punya iman.
Justru sebaliknya—kita punya iman, tapi ditempatkan di hal yang salah.
Kita percaya pada kemampuan diri sendiri untuk memahami semuanya.
Kita percaya kalau kita cukup memikirkan, kita bisa menemukan jawaban terbaik.
Kita percaya kalau kita cukup hati-hati, kita bisa menghindari semua kesalahan.
Padahal firman Tuhan jelas berkata, “jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Kenapa?
Karena pengertian kita terbatas.
Kontrol kita juga terbatas.
Tapi sering kali, kita hidup seolah-olah semuanya bergantung pada kita.
Ada satu hal yang penting untuk disadari:
overthinking terjadi ketika kita memikul tanggung jawab yang melebihi otoritas kita.
Kita mencoba mengatur hasil.
Kita mencoba memastikan masa depan.
Kita mencoba menghindari semua kemungkinan buruk.
Padahal, itu bukan bagian kita. Itulah kenapa overthinking terasa melelahkan. Karena kita sedang membawa sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.
Tuhan tidak pernah meminta kita berhenti berpikir. Tapi Tuhan mengundang kita untuk berhenti mencoba menjadi “yang berdaulat”. Percaya bukan berarti pasif, percaya berarti tahu kapan harus melepaskan. Damai tidak datang dari berhasil memikirkan semua kemungkinan, damai datang ketika kita menyerahkan kembali kendali itu kepada Tuhan.
Saat kita menerima bahwa kita tidak harus mengatur semuanya, perlahan pikiran kita juga mulai beristirahat.
Kalau hari ini pikiran terasa penuh, coba pelan-pelan lakukan ini:
1. Sadari apa yang sedang ingin dikendalikan
Biasanya, di balik overthinking ada sesuatu yang kita takut kehilangan atau gagal.
2. Akui keterbatasan diri
Tidak semua hal harus kita pahami atau selesaikan.
3. Serahkan kembali kepada Tuhan
Dalam doa yang sederhana, katakan: “Tuhan, ini bukan bagianku.”
4. Berhenti mengulang masa depan di kepala
Tuhan sudah ada di sana, bahkan sebelum kita sampai.
5. Pegang kebenaran, bukan ketakutan
Firman Tuhan menenangkan, bukan menekan.
6. Pilih untuk percaya—setiap hari
Karena damai itu bukan sesuatu yang instan, tapi dilatih.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK