Banyak orangtua berpikir bahwa bullying adalah urusan guru atau pihak sekolah. Padahal, siklusnya sering kali dimulai dari rumah baik karena anak meniru perilaku yang ia lihat, maupun karena anak tidak mendapat dukungan yang cukup ketika menjadi korban.
Bullying yang dibiarkan bisa membentuk karakter buruk atau meninggalkan luka batin yang bertahan hingga dewasa. Karena itu, rumah harus menjadi tempat pertama yang memutus rantai ini.
Anak yang menjadi pelaku bullying tidak selalu “nakal” sejak lahir. Mereka bisa saja meniru perilaku orang dewasa yang sering merendahkan, membentak, atau mengolok-olok orang lain. Di sisi lain, anak yang menjadi korban sering kali merasa tidak berdaya jika di rumah ia juga tidak mendapat penguatan.
Dengan memahami akar masalah, orangtua bisa menolong anak memperbaiki perilaku atau memulihkan luka.
Bully jarang terjadi di depan mata orang dewasa. Karena itu, orangtua perlu peka terhadap tanda-tanda, seperti:
Pada korban: tiba-tiba enggan ke sekolah, sering mengaku sakit, nilai menurun, atau menjadi sangat pendiam.
Pada pelaku: sering mengejek teman, mudah marah, merasa senang saat melihat orang lain kesulitan, atau berlaku kasar pada adik.
Semakin cepat tanda-tanda ini disadari, semakin besar peluang untuk menghentikan siklusnya.
BACA JUGA : 5 Cara Ajarkan Anak Bicara Tegas Tanpa Kasar
Anak yang merasa aman untuk bercerita akan lebih mudah terbuka tentang apa yang ia alami atau lakukan.
Luangkan waktu setiap hari untuk ngobrol santai tanpa interupsi gadget. Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi. Kadang, anak hanya butuh tahu bahwa orangtuanya mau mendengar dulu sebelum memberi nasihat.
Empati adalah kunci untuk menghentikan bullying. Anak yang memahami perasaan orang lain akan berpikir dua kali sebelum menyakiti.
Orangtua bisa mengajarkan empati lewat percakapan sehari-hari, misalnya dengan bertanya, “Kalau kamu di posisi dia, kamu akan merasa bagaimana?”
Selain itu, jelaskan batasan perilaku: tidak ada alasan untuk memukul, menghina, atau mempermalukan orang lain, bahkan saat bercanda.
Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada dari apa yang ia dengar. Jika orangtua menyelesaikan masalah dengan marah-marah, anak akan menganggap itu normal.
Tunjukkan bahwa perbedaan bisa dihadapi dengan diskusi, bukan kekerasan. Gunakan kata-kata yang membangun, bahkan saat sedang marah.
Menghentikan bullying butuh kolaborasi. Jika anak terlibat, baik sebagai korban maupun pelaku, segera komunikasikan dengan guru.
Dukung program anti-bullying di sekolah, ajak anak ikut kegiatan yang membangun kerja sama, dan dorong budaya saling menghargai di lingkungan rumah.
Peran orangtua bukan hanya melindungi anak sendiri, tapi juga membentuk generasi yang saling menghargai.
Saat kita memutus siklusnya, kita menanamkan nilai empati, rasa hormat, dan keberanian untuk berdiri membela yang benar. Mari pastikan, siklus bullying berhenti di sini di tangan kita.
Jangan berhenti di sini masih banyak artikel parenting lainnya yang bisa bantu kamu membimbing anak dalam terang Firman Tuhan. Klik Disini dan temukan yang kamu butuhkan hari ini.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK