Mazmur 13:1 (TB)
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”
Pernahkah kita merasa marah kepada Tuhan, tetapi tidak berani mengakuinya bahkan di dalam hati sendiri? Ini mungkin bukan pertanyaan yang sering diucapkan dengan suara keras, tetapi banyak orang percaya pernah menanyakannya secara diam-diam. Bagaimana cara berhenti marah kepada Tuhan?
Sering kali, respons pertama kita adalah mencoba menjadi lebih rohani.
Kita berdoa lebih sungguh-sungguh. Kita membaca firman lebih banyak. Kita mengingat kembali kebenaran-kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui.
Namun, meskipun semua itu baik, kemarahan itu tidak juga hilang. Pada akhirnya, kita menyadari satu hal penting: kemarahan itu sendiri bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah ketika kemarahan itu dibungkam.
Kemarahan yang kita rasakan sering kali adalah kesedihan yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Kita marah karena: merasa tidak didengar,kecewa dengan hasil yang tidak sesuai harapan, bingung dengan jalan Tuhan, merasa dikecewakan oleh situasi yang tidak kita pahami
Alih-alih membawa semua perasaan itu kepada Tuhan, kita justru mencoba melewati-Nya—tetap melakukan hal-hal rohani, tetapi tanpa kejujuran.
BACA JUGA : Mengapa Tuhan Sering Memakai Orang yang Tidak Merasa Paling Siap?
Alkitab menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Tuhan tidak tersinggung oleh ratapan yang jujur. Ia justru mengundangnya.
Daud bertanya kepada Tuhan di mana Dia berada. Ayub mempertanyakan penderitaannya. Yeremia menangis dalam kebingungan dan dukanya.
Dan Tuhan tidak menolak mereka. Ia tetap tinggal.
Tidak.
Marah kepada Tuhan bukan tanda kurang iman. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kita masih berada dalam relasi dengan-Nya. Ada perbedaan besar antara: kemarahan yang menjauh dari Tuhan dan kemarahan yang dibawa kepada Tuhan. Ketika kita berhenti berpura-pura baik-baik saja dan mulai menyampaikan dengan jujur apa yang kita rasakan kepada Tuhan, sesuatu mulai berubah.
Tuhan Tidak Selalu Memberi Jawaban, Tetapi Ia Memberi Diri-Nya
Jarak antara kita dan Tuhan mulai terbatas jika sering kali, kemarahan kita berakar pada harapan yang tidak terpenuhi.
Kita menginginkan penjelasan — Tuhan menawarkan kehadiran.
Kita menginginkan kendali — Tuhan menawarkan kepercayaan.
Kita menginginkan kepastian — Tuhan menawarkan diri-Nya sendiri.
Melepaskan kemarahan bukan berarti menekannya atau berpura-pura kuat. Melepaskan kemarahan berarti menaruhnya di tangan Tuhan. Seiring waktu: kemarahan melunak menjadi kesedihan, kesedihan membuka jalan bagi kejujuran, kejujuran menciptakan ruang bagi damai sejahtera. Bukan karena semuanya akhirnya masuk akal, melainkan karena kita tidak lagi melawan Tuhan di saat kita sebenarnya sangat membutuhkan-Nya.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK