“Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
— 2 Timotius 2:13 (TB)
Ada ketakutan yang jarang diucapkan. Kamu mungkin tidak pernah mengatakannya keras-keras, tetapi kamu merasakannya: Bagaimana kalau aku sudah terlalu sering gagal? Bagaimana kalau Tuhan akhirnya lelah denganku?
Ketakutan ini biasanya muncul saat kita kecewa pada diri sendiri. Lelah dengan kesalahan yang berulang. Malu karena jatuh di titik yang sama. Dalam kondisi seperti itu, kita mulai membayangkan Tuhan bereaksi seperti manusia—punya batas, punya titik jenuh, lalu pergi.
Padahal Alkitab tidak pernah menggambarkan Tuhan seperti itu.
Tuhan tidak tetap setia karena kita konsisten. Dia tetap setia karena itu adalah natur-Nya. Kesetiaan-Nya tidak bergantung pada performa kita. Ayat ini tidak berkata, “Jika kita membaik, Dia akan tetap setia.” Ayat ini berkata, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia.”
Artinya, dasar hubungan kita dengan Tuhan bukanlah kemampuan kita untuk bertahan, melainkan karakter-Nya yang tidak berubah.
Sering kali ketika kita merasa Tuhan akan menyerah, sebenarnya kita sedang lelah terhadap diri sendiri. Kita memproyeksikan kekecewaan pribadi kepada Tuhan. Kita mengira karena kita sudah capek dengan diri kita, maka Tuhan juga capek.
Injil tidak berkata Tuhan mempertahankanmu karena kamu semakin baik. Injil berkata Kristus sudah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Keselamatan bukan masa percobaan. Bukan sistem poin. Bukan kontrak yang bisa dibatalkan karena satu kegagalan lagi.
Perasaan menilai hubungan kita dengan Tuhan berdasarkan performa. Kalau kita rajin, kita merasa dekat. Kalau kita gagal, kita merasa jauh. Tetapi Tuhan berelasi dengan kita berdasarkan janji.
Perasaan berkata, “Aku gagal.”
Kebenaran berkata, “Kebenaranku ada di dalam Kristus.”
Hubungan ini berdiri di atas perjanjian, dan perjanjian itu dijamin oleh Pribadi yang paling setia—Yesus Kristus. Perjanjian tidak runtuh oleh kelemahan kita; ia dijaga oleh kesetiaan-Nya.
Ketika kamu merasa Tuhan akan meninggalkanmu, itu bukan sinyal untuk bersembunyi. Itu undangan untuk mendekat. Rasa malu ingin membuatmu menjauh. Kasih karunia memanggilmu datang lebih dekat.
Katakan pada Tuhan apa yang kamu takutkan. Merasa ditinggalkan tidak sama dengan benar-benar ditinggalkan. Keamananmu ada pada ketaatan Kristus, bukan pada ketaatanmu sendiri. Kamu bukan hakim atas statusmu di hadapan Tuhan.
Bahkan saat kamu merasa lemah, Dia tetap teguh.
Jika hari ini kamu takut Tuhan akan pergi, ingatlah: kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kekuatanmu. Dia tetap setia—karena itulah siapa Dia.
Download PDF
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK